Welcome to QIENAZONE. Thank you for visited my blogsite. Wish it will be useful for you guys. Leave a comment please ^^
Tampilkan postingan dengan label Patologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Patologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Juli 2012

Pneumonia

,
Definisi Pneumonia
Pneumonia adalah suatu infeksi dari satu atau dua paru-paru yang biasanya disebabkan oleh bakteri-bakteri, virus-virus, atau jamur. Sebelum penemuan dari antibiotik-antibiotik, satu per tiga dari semua orang-orang yang telah mengembangkan pneumonia sesudah itu meninggal dari infeksi. Saat ini, lebih dari 3 juta orang-orang mengembangkan pneumonia setiap tahun di Amerika. Lebih dari setengah juta dari orang-orag ini diopname di sebuah rumah sakit untuk perawatan. Meskipun kebanyakan dari orang-orang ini sembuh, kira-kira 5% akan meninggal dari pneumonia. Pneumonia adalah pemimpin ke enam penyebab kematian di Amerika.

Bagaimana Orang-Orang "Menangkap Pneumonia" ?
Beberapa kasus-kasus dari pneumonia didapatkan dengan menghirup rintik-rintik kecil (droplets) yang mengandung organisme-organisme yang dapat menyebabkan pneumonia. Rintik-rintik ini masuk kedalam udara ketika seorang yang terinfeksi dengan kuman-kuman ini batuk atau bersin. Pada kasus-kasus lain, pneumonia disebabkan ketika bakteri-bakteri atau virus-virus yang secara normal hadir didalam mulut, tenggorokan, atau hidung tanpa sengaja memasuki paru. Sewaktu tidur, adalah sama sekali umum untuk orang-orang untuk menyedot sekresi-sekresi (pengeluaran) dari mulut, tenggorokan, atau hidung. Secara normal, respon refleks tubuh (membatuk keluar sekresi-sekresi) dan sistim imun akan mencegah organisme-organisme yang tersedot menyebabkan pneumonia. Bagaimanapun, jika seseorang ada dalam suatu kondisi yang lemah dari penyakit yang lain, suatu pneumonia yang parah dapat berkembang. Orang-orang dengan infeksi-infeksi virus baru-baru ini, penyakit paru, penyakit jantung, dan persoalan-persoalan menelan, begitu juga sebagai pemakai-pemakai obat dan alkohol, dan mereka yang telah menderita suatu stroke atau epilepsi berada pada risiko yang tinggi mengembangkan pneumonia daripada populasi umum.
Sekali organisme-organisme memasuki paru-paru, mereka biasanya menetap di kantong-kantong udara dari paru dimana mereka tumbuh dalam jumlah secara cepat. Area dari paru ini kemudian menjadi terisi dengan cairan dan nanah karena tubuh berusaha untuk melawan infeksi.

Gejala-Gejala Dan Tanda-Tanda Pneumonia
Kebanyakan orang-orang yang mengembangkan pneumonia awalnya mempunyai gejala-gejala dari suatu infuensa yang kemudian diikuti oleh suatu demam yang tinggi (adakalanya setinggi 104 derajat Fahrenheit), menggigil, dan suatu batuk dengan produksi sputum (dahak). Sputum adalah biasanya berubah warna dan adakalanya berdarah. Orang-orang dengan pneumonia mungkin menjadi pendek napasnya. Satu-satunya serat-serat nyeri di paru adalah dipermukaan paru, di area yang dikenal sebagai pleura. Nyeri dada mungkin berkembang jika aspek-aspek pleural bagian luar dari paru terlibat. Nyeri ini biasanya adalah tajam dan memburuk ketika mengambil suatu napas yang dalam, yang dikenal sebagai nyeri pleuritic.
Pada kasus-kasus yang lain dari pneumonia, dapat terjadi suatu penimbulan yang perlahan dari gejala-gejala. Suatu perburukan batuk, sakit-sakit kepala, dan sakit-sakit otot mungkin adalah satu-satunya dari gejala-gejala. Pada beberapa orang-orang dengan pneumonia, batuk adalah bukan suatu gejala utama karena infeksi berlokasi pada area-area dari paru jauh dari saluran-saluran udara yang lebih besar. Pada saat-saat, warna kulit seorang individu mungkin berubah dan menjadi kehitam-hitaman atau keungu-unguan (suatu kondisi yang dikenal sebagai "cyanosis") yang disebabkan oleh darah mereka yang dioksigenasi secara buruk.
Anak-anak dan bayi-bayi yang mengembangkan pneumonia seringkali tidak mempunyai tanda-tanda yang spesifik mana saja dari suatu infeksi dada namun mengembngkan suatu demam, nampak cukup sakit, dan dapat menjadi lesu. Orang-orang yang lebih tua mungkin juga mempunyai sedikit gejala-gejala dengan pneumonia.

Mendiagnosis Pneumonia

Pneumonia mungkin dicurigai ketika dokter memeriksa pasien dan mendengar pernapasan yang kasar atau suara-suara yang pecah ketika mendengarkan pada suatu porsi dari dada dengan sebuah stethoscope. Mungkin ada suara mencuit-cuit, atau suara-suara pernapasan mungkin adalah redup pada suatu area tertentu dari dada. Suatu x-ray dada biasanya dipesan untuk mengkonfirmasi diagnosis dari pneumonia. Paru-paru mempunyai beberapa segmen-segmen yang dirujuk sebagai gelambir-gelambir (lobes), biasanya dua di kiri dan tiga di kanan. Ketika pneumonia mempengaruhi satu dari gelambir-gelambir (lobes) ini ia seringkali dirujuk sebagai lobar pneumonia. Beberapa pneumonia-pneumonia mempunyai suatu distribusi yang lebih setengah-setengah yang tidak melibatkan gelambir-gelambir (lobes) yang spesifik. Di waktu lalu, ketika kedua paru-paru terlibat dalam infeksi, istilah "double pneumonia" digunakan. Istilah ini sekarang jarang digunakan.
Contoh-contoh sputum (dahak) dapat diambil dan diuji dibawah mikroskop. Jika pneumonia disebabkan oleh bakteri atau jamur, organisme-organisme dapat seringkali dideteksi dengan pemeriksaan ini. Suatu contoh dari sputum dapat ditumbuhkan di inkubator-inkubator khusus, dan organisme yang menyerang dapat diidentifikasi sesudah itu. Adalah penting untu mengerti bahwa spesimen sputum harus mengandung sedikit air liur (saliva) dari mulut dan dikirim ke laboratorium cukup cepat. Kalau tidak, pertumbuhan yang terlalu cepat dari bakteri yang tidak menginfeksi mungkin mendominasi.
Suatu tes darah yang mengukur jumlah sel darah putih [white blood cell (WBC)] mungkin dilaksanakan. Suatu jumlah sel darah putih dari seorang individu dapat seringkali memberikan suatu petunjuk pada keparahan dari pneumonia dan apakah ia disebabkan oleh bakteri atau suatu virus. Suatu angka dari neutrophils yang meningkat, satu tipe dari WBC, terlihat pada infeksi-infeksi bakteri, sedangkan suatu peningkatan dalam lymphocytes, tipe yang lain dari WBC, terlihat pada infeksi-infeksi virus.
Bronchoscopy adalah suatu prosedur dimana suatu tabung penglihat yang disinari yang tipis, lentur, dimasukan kedalam hidung atau mulut setelah suatu pembiusan lokal diatur. Jalan-jalan lintas pernapasan dapat kemudian diperiksa secara langsung oleh dokter, dan spesimen-spesimen dari bagian paru yang terinfeksi dapat diperoleh.
Adakalanya, cairan berkumpul pada ruang pleural sekitar paru sebagai suatu akibat dari peradangan dari pneumonia. Cairan ini disebut suatu pleural effusion. Jika jumlah dari cairan ini yang berkembang adalah cukup besar, ia dapat dikeluarkan dengan memasukan sebuah jarum kedalam rongga dada dan menarik cairan dengan suatu penyemprot (syringe) dalam suatu prosedur yang disebut suatu thoracentesis. Pada beberapa kasus-kasus, cairan dapat menjadi meradang sungguh parah (parapneumonic effusion) atau terinfeksi (empyema) dan mungkin perlu diangkat dengan prosedur-rosedur operasi yang lebih agresif.

Organisme-Organisme Penyebab Pneumonia Dan Perawatannya

Penyebab yang paling umum dari suatu pneumonia bakteri adalah Streptococcus pneumoniae. Pada bentuk dari pneumonia ini, biasanya ada suatu penimbulan yang tiba-tiba dari penyakit dengan menggigil, demam, dan produksi dari suatu sputum yang berwarna karat. Infeksi menyebar kedalam darah pada 20%-30% dari kasus-kasus, dan jika ini terjadi, 20%-30% dari pasien-pasien ini meninggal.
Dua vaksin tersedia untuk mencegah penyakit pneumococcal; pneumococcal conjugate vaccine (PCV7; Prevnar) dan pneumococcal polysaccharide vaccine (PPV23; Pneumovax). Pneumococcal conjugate vaccine adalah bagian dari jadwal imunisasi bayi yang rutin di Amerika dan direkomendasikan untuk semua anak-anak dibawah umur 2 tahun dan anak-anak yang berumur 2-4 tahun yang mempunyai kondisi-kondisi medis tertentu. Pneumococcal polysaccharide vaccine direkomendasikan untu dewasa-dewasa yang berada pada risiko yang meningkat mengembangkan pneumococcal pneumonia termasuk orang-orang yang lebih tua yang mempunyai diabetes, penyakit jantung, paru, atau ginjal yang kronis, mereka yang dengan alkoholisme, perokok-perokok sigaret, dan pada orang-orang yang telah diangkat limpanya.
Antibiotik-antibiotik seringkali digunakan dalam perawatan tipe pneumonia ini termasuk penicillin, amoxicillin dan clavulanic acid (Augmentin, Augmentin XR), dan macrolide antibiotics termasuk erythromycin, azithromycin (Zithromax, Zmax), dan clarithromycin (Biaxin). Penicillin tadinya/dahulu adalah pilihan dari antibiotik dalam merawat infeksi ini. Dengan kedatangan dan penggunaan yang luas dari broader-spectrum antibiotics, resistensi yang signifikan terhadap obat telah berkembang. Penicillin mungkin masih efektif dalam perawatan dari pneumococcal pneumonia, namun ia harus hanya digunakan setelah pembiakan dari bakteri mengkonfirmasi kepekaan mereka terhadap antibiotik ini.
Klebsiella pneumoniae dan Hemophilus influenzae adalah bakteri-bakteri yang seringkali menyebabkan pneumonia pada orang-orang yang menderita dari penyakit chronic obstructive pulmonary disease (COPD) atau alkolisme. Antibiotik-antibiotik yang bermanfaat dalam kasus ini adalah generasi cephalosporins kedua dan ketiga, amoxicillin dan clavulanic acid, fluoroquinolones (levofloxacin [Levaquin], moxifloxacin-oral [Avelox], gatifloxacin-oral [Tequin], dan sulfamethoxazole dan trimethoprim [Bactrim, Septra]).
Mycoplasma pneumoniae adalah suatu tipe bakteri yang seringkali menyebabkan suatu infeksi yang berkembang secara perlahan. Gejala-gejala termasuk demam, kedinginan, nyeri-nyeri otot, diare, dan ruam kulit. Bakteri ini adalah penyebab utama dari banyak pneumonia dalam bulan-bulan musim panas dan gugur, dan kondisinya seringkali dirujuk sebagai "atypical pneumonia." Macrolides (erythromycin, clarithromycin, azithromycin, dan fluoroquinolones) adalah antibiotik-antibiotik yang umum diresepkan untuk merawat Mycoplasma pneumonia.
Penyakit Legionnaire disebabkan oleh bakteri Legionella pneumoniae yang paling sering ditemukan pada suplai-suplai air yang terkontaminasi dan alat-alat pendingin udara (air conditioners). Ia adalah suatu infeksi yang berpotensi fatal jika tidak didiagnosis secara akurat. Pneumonia adalah bagian dari infeksi keseluruhan, dan gejala-gejala termasuk demam tinggi, suatu denyut jantung yang relatif perlahan, diare, mual, muntah, dan nyeri dada. Laki-laki yang lebih tua, perokok-perokok, dan orang-orang yang sistim imunnya ditekan berada pada risiko yang lebih tinggi mengembangkan penyakit Legionnaire. Fluoroquinolones adalah perawatan pilihan pada infeksi ini. Infeksi ini seringkali didianosis dengan suatu tes urin khusus yang mencari antibodi-antibodi yang spesifik pada organisme-organisme spesifik.
Mycoplasma, Legionnaire, dan infeksi yang lain, Chlamydia pneumoniae, semuanya menyebabkan suatu sindrom yang dikenal sebagai "atypical pneumonia." Pada sindrom ini, x-ray dada menunjukan kelainan-kelainan yang menyebar, namun pasien tidak tampak sungguh sakit. Infeksi-infeksi ini adalah sangat sulit untuk dibedakan secara klinik dan seringkali memerlukan bukti laboratorium untuk konfirmasi.
Pneumocystis carinii pneumonia adalah bentuk yang lain dari pneumonia yang biasanya melibatkan kedua paru-paru. Ia terlihat pada pasien-pasien dengan suatu sistim imun yang dikompromikan, dari kemoterapi untuk kanker, HIV/AIDS, dan yang dirawat dengan TNF (tumor necrosis factor), seperti untuk rheumatoid arthritis. Sekali didiagnosis, ia biasanya merespon baik pada antibiotik-antibiotik yang mengandung sulfa. Steroid-steroid seringkali digunakan secara tambahan pada kasus-kasus yang lebih parah.
Pneumonia-pneumonia virus secara khas tidak merespon pada perawatan antibiotik. Infeksi-infeksi ini dapat disebabkan oleh adenoviruses, rhinovirus, influenza virus (flu), respiratory syncytial virus (RSV), dan parainfluenza virus (yang juga menyebabkan croup). Pneumonia-pneumonia ini biasanya hilang melalui waktu dengan sistim imun tubuh menghindari infeksi. Adalah penting untuk memastikan bahwa suatu pneumonia bakteri tidak berkembang secara sekunder. Jika ia lakukan, maka pneumonia bakteri dirawat dengan antibiotik-antibiotik yang tepat. Pada beberapa situasi-situasi, terapi antivirus adalah bermanfaat dalam merawat kondisi-kondisi ini.
Infeksi-infeksi jamur yang dapat menjurus pada pneumonia termasuk histoplasmosis, coccidiomycosis, blastomycosis, aspergillosis, dan cryptococcosis. Ini bertanggung jawab untuk suatu persentase yang relatif kecil dar pneumonia-pneumonia di Amerika. Setiap jamur mempunyai perawatan-perawatan antibiotik yang spesifik, diantara mana adalah amphotericin B, fluconazole (Diflucan), penicillin, dan sulfonamides.
Kekhwatiran-kekhwatiran utama telah berkembang dalam komunitas kedokteran menyangkut penggunaan yang berlebihan dari antibiotik-antibiotik. Kebanyakan luka-luka tenggorokan dan infeksi-infeksi pernapasan bagian atas disebabkan oleh virus-virus daripada oleh bakteri-bakteri. Meskipun antibiotik-antibiotik adalah tidak efektif melawan virus-virus, mereka seringkali diresepkan. Penggunaan yang berlebihan ini telah berakibat dalam suatu keragaman dari bakteri-bakteri yang telah menjadi resisten pada banyak antibiotik-antibiotik. Organisme-organisme yang resisten ini umumnya terlihat di rumah-rumah sakit dan rumah-rumah merawat/menyusui. Sesungguhnya, dokter-dokter harus mempertimbangkan lokasi ketika meresepkan antibiotik-antibiotik [pneumonia yang didapat dari komunitas atau community-acquired pneumonia (CAP), versus pneumonia yang didapat dari rumah sakit atau hospital-acquired pneumonia (HAP)].
Organisme-organisme yang lebih mematikan seringkali datang dari lingkungan perawatan kesehatan, rumah sakit atau rumah-rumah perawatan. Organisme-organisme ini telah dipaparkan pada suatu keragaman dari antibiotik-antibiotik yang paling kuat yang tersedia untuk kita. Mereka cencerung mengembangkan resistensi pada beberapa dari antibiotik-antibiotik ini. Organisme-organisme ini dirujuk sebagai nosocomial bacteria dan dapat menyebabkan apa yang dikenal sebagai nosocomial pneumonia ketika paru-paru terinfeksi.
Baru-baru ini, satu dari organisme-organisme yang resisten ini dari rumah sakit telah menjadi cukup umum di masyarakat. Pada beberapa masyarakat-masyarakat, sampai dengan 50% dari infeksi-infeksi Staph aureus disebabkan oleh organisme-organisme yang resisten pada antibiotik methicillin. Organisme ini dirujuk sebagai MRSA (methicillin-resistant Staph aureus) dan memerlukan antibiotik-antibiotik khusus ketika ia menyebabkan infeksi. Ia dapat menyebakan pneumonia namun juga seringkali menyebabkan infeksi-infeksi kulit. Pada banyak rumah-rumah sakit, pasien-pasien dengan infeksi ini ditempatkan di isolasi kontak. Pengunjung-pengunjung mereka seringkali diminta memakai sarung tangan, masker, dan jubah. Ini dilakukan untuk membantu mencegah penyebaran dari bakteri ini pada permukaan-permukaan lain dimana mereka dapat dengan tidak hati-hati mengkontaminasi apa saja yang menyentuh permukaan itu. Oleh karenanya adalah sangat penting untuk mencuci tangan-tangan anda secara menyeluruh dan seringkali untuk membatasi penyebaran lebih jauh dari organisme resisten ini.

Kesimpulan-Kesimpulan

Pneumonia dapat menjadi suatu infeksi yang serius dan mengancam nyawa. Ini adalah benar terutama pada orang-orang tua, anak-anak, dan mereka yang mempunyai persolan-persoalan medis lain yang serius, seperti COPD, penyakit jantung, diabetes, dan kanker-kanker tertentu. Untungnya, dengan penemuan dari banyak antibiotik-antibiotik yang kuat, kebanyakan kasus-kasus dari pneumonia dapat dirawat dengan sukses. Nyatanya, pneumonia dapat biasanya dirawat dengan antibiotik-antibiotik oral tanpa keperluan untuk opname di rumah sakit.

Kamis, 24 Mei 2012

Kelainan/Gangguan Sistem Pencernaan "Diare"

,
   Diare merupakan masalah yang serin terjadi pada bayi dan anak-anak, bahkan ini menjadi salah satu penyebab terbesar kematian bayi dan anak-anak lantaran diare mengakibatkan dehidrasi hebat apabila tidak ditangani dengan benar dan cepat. Hal ini juga cukup menyulitkan lantaran masyarakat awam belum mengetahui secara mendalam pengetahuan mengenai penyakit ini.
   Berikut ini akan saya jelaskan secara terperinci mengenai penyebab, gejala, pengobatan, serta pencegahan penyakit diare seperti yang ditulis dalam medicastore.com. Semoga bermanfaat dan membantu Anda yang tengah membutuhkan informasi ini ^^


A.   Pengertian
Beberapa pengertian diare:
1. Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cairan, dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari keadaan normal yakni 100-200 ml sekali defekasi (Hendarwanto, 1999).
2. Menurut WHO (1980) diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari.
3. Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat bercampur lendir dan darah (Ngastiyah, 1997).

B.   Penyebab Diare
Diare bukanlah penyakit yang datang dengan sendirinya. Biasanya ada yang menjadi pemicu terjadinya diare. Secara umum, berikut ini beberapa penyebab diare, yaitu:
1. Infeksi oleh bakteri, virus atau parasit.
2. Alergi terhadap makanan atau obat tertentu.
3. Infeksi oleh bakteri atau virus yang menyertai penyakit lain seperti: Campak, Infeksi telinga, Infeksi tenggorokan, Malaria, dll.
4. Pemanis buatan
Berdasar metaanalisis di seluruh dunia, setiap anak minimal mengalami diare satu kali setiap tahun. Dari setiap lima pasien anak yang datang karena diare, satu di antaranya akibat rotavirus. Kemudian, dari 60 anak yang dirawat di rumah sakit akibat diare satu di antaranya juga karena rotavirus.
Di Indonesia, sebagian besar diare pada bayi dan anak disebabkan oleh infeksi rotavirus. Bakteri dan parasit juga dapat menyebabkan diare. Organisme-organisme ini mengganggu proses penyerapan makanan di usus halus. Dampaknya makanan tidak dicerna kemudian segera masuk ke usus besar.
Makanan yang tidak dicerna dan tidak diserap usus akan menarik air dari dinding usus. Di lain pihak, pada keadaan ini proses transit di usus menjadi sangat singkat sehingga air tidak sempat diserap oleh usus besar. Hal inilah yang menyebabkan tinja berair pada diare.
Sebenarnya usus besar tidak hanya mengeluarkan air secara berlebihan tapi juga elektrolit. Kehilangan cairan dan elektrolit melalui diare ini kemudian dapat menimbulkan dehidrasi. Dehidrasi inilah yang mengancam jiwa penderita diare.
Selain karena rotavirus, diare juga bisa terjadi akibat kurang gizi, alergi, tidak tahan terhadap laktosa, dan sebagainya. Bayi dan balita banyak yang memiliki intoleransi terhadap laktosa dikarenakan tubuh tidak punya atau hanya sedikit memiliki enzim laktose yang berfungsi mencerna laktosa yang terkandung susu sapi.


Tidak demikian dengan bayi yang menyusu ASI. Bayi tersebut tidak akan mengalami intoleransi laktosa karena di dalam ASI terkandung enzim laktose. Disamping itu, ASI terjamin kebersihannya karena langsung diminum tanpa wadah seperti saat minum susu formula dengan botol dan dot.
Diare dapat merupakan efek sampingan banyak obat terutama antibiotik. Selain itu, bahan-bahan pemanis buatan sorbitol dan manitol yang ada dalam permen karet serta produk-produk bebas gula lainnya menimbulkan diare.
Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.
Orang tua berperan besar dalam menentukan penyebab anak diare. Bayi dan balita yang masih menyusui dengan ASI eksklusif umumnya jarang diare karena tidak terkontaminasi dari luar. Namun, susu formula dan makanan pendamping ASI dapat terkontaminasi bakteri dan virus.

C.   Gejala Diare
Gejala diare atau mencret adalah tinja yang encer dengan frekuensi 4 x atau lebih dalam sehari, yang kadang disertai:
1. Muntah
2. Badan lesu atau lemah
3. Panas
4. Tidak nafsu makan
5. Darah dan lendir dalam kotoran
Rasa mual dan muntah-muntah dapat mendahului diare yang disebabkan oleh infeksi virus. Infeksi bisa secara tiba-tiba menyebabkan diare, muntah, tinja berdarah, demam, penurunan nafsu makan atau kelesuan.
Selain itu, dapat pula mengalami sakit perut dan kejang perut, serta gejala-gejala lain seperti flu misalnya agak demam, nyeri otot atau kejang, dan sakit kepala. Gangguan bakteri dan parasit kadang-kadang menyebabkan tinja mengandung darah atau demam tinggi.
Diare bisa menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit (misalnya natrium dan kalium), sehingga bayi menjadi rewel atau terjadi gangguan irama jantung maupun perdarahan otak.
Diare seringkali disertai oleh dehidrasi (kekurangan cairan). Dehidrasi ringan hanya menyebabkan bibir kering. Dehidrasi sedang menyebabkan kulit keriput, mata dan ubun-ubun menjadi cekung (pada bayi yang berumur kurang dari 18 bulan). Dehidrasi berat bisa berakibat fatal, biasanya menyebabkan syok.

Klasifikasi Dehidrasi
Berdasarkan klasifikasi dehidrasi WHO, maka dehidrasi dibagi tiga menjadi dehidrasi ringan, sedang, atau berat.
1. Dehidrasi Ringan
Tidak ada keluhan atau gejala yang mencolok. Tandanya anak terlihat agak lesu, haus, dan agak rewel.
2. Dehidrasi Sedang
Tandanya ditemukan 2 gejala atau lebih gejala berikut:
- Gelisah, cengeng
- Kehausan
- Mata cekung
- Kulit keriput, misalnya kita cubit kulit dinding perut, kulit tidak segera kembali ke posisi semula.

3. Dehidrasi berat
Tandanya ditemukan 2 atau lebih gejala berikut:
- Berak cair terus-menerus
- Muntah terus-menerus
- Kesadaran menurun, lemas luar biasa dan terus mengantuk
- Tidak bisa minum, tidak mau makan
- Mata cekung, bibir kering dan biru
- Cubitan kulit baru kembali setelah lebih dari 2 detik
- Tidak kencing 6 jam atau lebih/frekuensi buang air kecil berkurang/kurang dari 6 popok/hari.
- Kadang-kadang dengan kejang dan panas tinggi

D.  Pengobatan Diare yang Tepat
Tidak selamanya diare itu buruk. Sebenarnya diare adalah mekanisme tubuh untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Racun yang dihasilkan oleh virus, bakteri, parasit dan sebagainya akan dibuang keluar bersama dengan tinja yang encer.
Kehilangan cairan tubuh yang mengandung elektrolit penting adalah penyebab kematian pada penderita diare. Kondisi yang disebut dehidrasi ini berbahaya karena dapat menimbulkan gangguan irama jantung dan menurunkan kesadaran pasien. Jangan anggap remeh, kalau tidak diatasi bisa menimbulkan kematian.
Sebagian besar diare akut (diare mendadak) pada anak dapat disembuhkan hanya dengan pemberian cairan dan meneruskan pemberian makanan saja. Oleh sebab itu, inti dari pengobatan diare adalah memberikan cairan untuk menghindari terjadi dehidrasi.
Prinsip pengobatan diare adalah mencegah dehidrasi dengan pemberian oralit (rehidrasi) dan mengatasi penyebab diare. Diare dapat disebabkan oleh banyak faktor seperti salah makan, bakteri, parasit, sampai radang. Pengobatan yang diberikan harus disesuaikan dengan klinis pasien.
Obat diare dibagi menjadi tiga, pertama kemoterapeutika yang memberantas penyebab diare. Seperti bakteri atau parasit, obstipansia untuk menghilangkan gejala diare dan spasmolitik yang membantu menghilangkan kejang perut yang tidak menyenangkan.
Sebaiknya jangan mengkonsumsi golongan kemoterapeutika tanpa resep dokter. Dokter akan menentukan obat yang disesuaikan dengan penyebab diarenya misal bakteri, parasit. Pemberian kemoterapeutika memiliki efek samping dan sebaiknya diminum sesuai petunjuk dokter
Sebenarnya usus besar tidak hanya mengeluarkan air secara berlebihan tapi juga elektrolit. Kehilangan cairan dan elektrolit melalui diare ini kemudian dapat menimbulkan dehidrasi. Dehidrasi inilah yang mengancam jiwa penderita diare.

Penggolongan Obat Diare
- Kemoterapeutika untuk terapi kausal yaitu memberantas bakteri penyebab diare seperti antibiotika, sulfonamide, kinolon dan furazolidon.
1.  Racecordil
Anti diare yang ideal harus bekerja cepat, tidak menyebabkan konstipasi, mempunyai indeks terapeutik yang tinggi, tidak mempunyai efek buruk terhadap sistem saraf pusat, dan yang tak kalah penting, tidak menyebabkan ketergantungan. Racecordil yang pertama kali dipasarkan di Perancis pada 1993 memenuhi semua syarat ideal tersebut.
2.  Loperamide
Loperamide merupakan golongan opioid yang bekerja dengan cara memperlambat motilitas saluran cerna dengan mempengaruhi otot sirkuler dan longitudinal usus. Obat diare ini berikatan dengan reseptor opioid sehingga diduga efek konstipasinya diakibatkan oleh ikatan loperamid dengan reseptor tersebut. Efek samping yang sering dijumpai adalah kolik abdomen (luka di bagian perut), sedangkan toleransi terhadap efek konstipasi jarang sekali terjadi.
3.  Nifuroxazide
Nifuroxazide adalah senyawa nitrofuran memiliki efek bakterisidal terhadap Escherichia coli, Shigella dysenteriae, Streptococcus, Staphylococcus dan Pseudomonas aeruginosa. Nifuroxazide bekerja lokal pada saluran pencernaan.
Obat diare ini diindikasikan untuk dire akut, diare yang disebabkan oleh E. coli & Staphylococcus, kolopatis spesifik dan non spesifik, baik digunakan untuk anak-anak maupun dewasa.
4.  Dioctahedral smectite
Dioctahedral smectite (DS), suatu aluminosilikat nonsistemik berstruktur filitik, secara in vitro telah terbukti dapat melindungi barrier mukosa usus dan menyerap toksin, bakteri, serta rotavirus. Smectite mengubah sifat fisik mukus lambung dan melawan mukolisis yang diakibatkan oleh bakteri. Zat ini juga dapat memulihkan integritas mukosa usus seperti yang terlihat dari normalisasi rasio laktulose-manitol urin pada anak dengan diare akut.
- Obstipansia untuk terapi simtomatis (menghilangkan gejala) yang dapat menghentikan diare dengan beberapa cara:
1. Zat penekan peristaltik, sehingga memberikan lebih banyak waktu untuk resorpsi air dan elektrolit oleh mukosa usus seperti derivat petidin (difenoksilatdan loperamida), antokolinergik (atropine, ekstrak belladonna)
2. Adstringensia yang menciutkan selaput lendir usus, misalnya asam samak (tannin) dan tannalbumin, garam-garam bismuth dan alumunium.
3. Adsorbensia, misalnya karbo adsorben yanga pada permukaannya dapat menyerap (adsorpsi) zat-zat beracun (toksin) yang dihasilkan oleh bakteri atau yang adakalanya berasal dari makanan (udang, ikan). Termasuk di sini adalah juga musilago zat-zat lendir yang menutupi selaput lendir usus dan luka-lukanya dengan suatu lapisan pelindung seperti kaolin, pektin (suatu karbohidrat yang terdapat antara lain sdalam buah apel) dan garam-garam bismuth serta alumunium.
- Spasmolitik, yakni zat-zat yang dapat melepaskan kejang-kejang otot yang seringkali mengakibatkan nyeri perut pada diare antara lain papaverin dan oksifenonium.

E.   Pencegahan Diare
Diare termasuk penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya (self limiting disease). Meskipun demikian, jangan remehkan diare karena dapat mengancam jiwa. Dua pembunuh terbesar anak-anak balita (bawah lima tahun) adalah diare dan radang paru-paru.
Penyakit diare dapat ditularkan melalui:
1. Pemakaian botol susu yang tidak bersih
2. Menggunakan sumber air yang tercemar
3. Buang air besar disembarang tempat
4. Pencemaran makanan oleh serangga (lalat, kecoa, dll) atau oleh tangan yang kotor.
Faktor kebersihan ternyata ikut andil dalam menyebabkan diare. Mulai dari kebersihan alat makan sampai kebersihan setelah buang air kecil/buang air besar. Semua yang dapat mengenai tangan atau langsung masuk ke dalam mulut harus diwaspadai.
Ada cara yang mudah untuk mencegah terkena diare yaitu mencuci tangan dengan sabun. Kebiasaan sederhana mencuci tangan dengan sabun, jika diterapkan secara luas, akan menyelamatkan lebih dari satu juta orang di seluruh dunia, khususnya balita.
Tak kalah penting adalah pemberian ASI minimal 6 bulan. Sebab, di dalam ASI terdapat antirotavirus yaitu imunoglobulin. Makanya, anak-anak yang minum ASI eksklusif jarang menderita diare. Selain ASI, imunisasi campak ternyata bisa mencegah diare.
Penyebab utama diare pada orang dewasa adalah bakteri yang mengkontaminasi makan dan minuman, sehingga mencegah diare pada orang dewasa adalah dengan memperhatikan kebersihan makanan dan minuman. Jadi pilihlah makanan yang tetap dalam keadaan baik

Suntikan Vaksin Rotavirus
Di Indonesia kematian anak mencapai 240.000 orang per tahun. Kematian anak karena diare 50.400 orang. Dari jumlah itu 10.088 anak di antaranya akibat rotavirus. Di Jakarta dan Surabaya sekitar 21-42 persen balita meninggal akibat diare dari rotavirus.
Rotavirus ditemukan pertama kali oleh Ruth Bishop (Australia) tahun 1973. Di Indonesia rotavirus ditemukan pada 1976. Rotavirus kemungkinan masuk ke tubuh manusia bukan hanya lewat oral tapi juga melalui saluran pernafasan.
Untuk mencegah diare akibat infeksi rotavirus, bisa diberikan vaksin rotavirus per-oral (melalui mulut). Sayangnya di Indonesia, vaksin rotavirus ini belum ada. Namun karena rotavirus generasi awal itu strainnya sama dengan yang di dunia, G1, G2, G3, dan G4, maka vaksin yang sudah ada di negara lain bisa digunakan.

Selasa, 08 Mei 2012

Kanker Payudara pada Pria Lebih Mematikan

,
Kanker payudara pada dasarnya dapat menyerang pada pria maupun wanita. Meskipun kasus kanker payudara pada pria lebih jarang terjadi, tetapi riset terbaru mengindikasikan bahwa kanker payudara pada pria mungkin bisa lebih mematikan ketimbang wanita.
"Pria yang mengidap kanker payudara mungkin kurang mendapatkan perawatan standar, berbeda dengan yang selama ini para wanita dapatkan," kata penulis studi, Dr Jon Greif, seorang ahli bedah payudara di San Francisco Amerka Serikat.



Greif mengatakan, tingkat kelangsungan hidup untuk pria yang memiliki kanker payudara secara keseluruhan lebih rendah ketimbang  wanita, setidaknya saat didiagnosa pada tahap awal. 



Rencanya Greif akan mempresentasikan temuannya dalam sebuah pertemuan tahunan American Society of Breast Surgeons di Phoenix.



Greif dan rekan menegaskan, walau bagaimanapun, beberapa perbedaan yang mereka temukan mungkin tidak dapat dibuktikan dalam praktek klinis.



Greif mengakui, riset yang dilakukannya memiliki keterbatasan karena mereka menggunakan databasepasien kanker payudara yang sudah meninggal namun tidak diketahui apa penyebab kematiannya. Jadi, sulit untuk mengetahui apakah mereka meninggal akibat kanker atau sesuatu yang lain.



Banyak pria tidak menyadari bahwa mereka bisa terkena kanker payudara. Bahkan, data yang dimiliki American Cancer Society memperkirakan, ada sekitar 2.200 kasus baru kanker payudara pada laki-laki pada tahun ini. Diperkirakan, 410 orang akan meninggal karena kanker payudara pada tahun 2012 di Amerika Serikat.

Kajian Riset



Dalam kajiannya, Greif membandingkan sekitar 13.000 pria dengan kanker payudara, yang teridentifikasi dalam National Cancer Data Base dan lebih 1,4 juta wanita dengan kanker payudara. Data tersebut diperoleh sejak tahun 1998-2007. Para peneliti mengevaluasi karakteristik kanker dan tingkat kelangsungan hidup pasien dengan mempertimbangkan usia, etnis dan faktor lainnya.



Pria dengan kanker payudara lebih mungkin dari kalangan orang kulit hitam dibandingkan wanita dengan kanker payudara (11,7 persen berbanding 9,9 persen), dan sangat jarang terjadi pada ras Hispanik (3,6 persen pada pria dan 4,5 persen pada wanita). Selain itu, berdasarkan usia, pria umumnya baru terdiagnosis kanker payudara ketika memasuki usia rata-rata 63 tahun, sedangkan pada wanita 59 tahun.



Tumor pada pria juga lebih besar ketika didiagnosis, dan penyebarannya sampai ke kelenjar getah bening serta ke bagian tubuh lain. Studi juga menemukan bahwa pria dengan kanker payudara memiliki sedikit kesempatan untuk mendapatkan mastektomi parsial dan menerima radiasi. Greif bahkan menemukan bahwa harapan hidup wanita dengan kanker payudara dalam jangka waktu lima tahun ke depan sekitar 83 persen, namun pada pria hanya 74 persen - berlaku untuk setiap tingkat stadium kanker.  



"Perempuan selama ini sangat ditekankan untuk mendapatkan pemeriksaan payudara dan mammografi," kata Greif.


Itulah sebabnya kenapa wanita dengan kanker payudara lebih sering terdiagnosis lebih awal, ketika tumor masih kecil. Greif mengungkapkan, perlu kesadaran yang lebih terutama pada pria untuk memeriksakan payudaranya.


Susan Boolbol, kepala divisi operasi payudara di Beth Israel Medical Center, New York City mengatakan, temuan ini sangat berharga karena melihat dampak kanker payudara dari sisi perbedaan gender, meskipun penelitian ini memiliki keterbatasan.



"Selama bertahun-tahun orang beranggapan bahwa tingkat stadium dan jenis kelamin tidak memengaruhi terhadap perkembangan kanker payudara," kata Boolbol.


Namun penelitian terbaru ini, lanjut Boolbol, memberikan hasil yang sebaliknya dengan melibatkan sejumlah besar pasien pria dengan kanker payudara, dibandingkan penelitian sebelumnya yang sudah pernah dilakukan


Boolbol mengatakan, kurangnya informasi mengenai penyebab kematian dari pasien pria dengan kanker payudara dianggap sebagai keterbatasan utama dari temuan tersebut. Meski begitu, "ini adalah studi yang sangat menarik, dan temuan ini akan membuka jalan supaya lebih banyak lagi penelitian yang dilakukan khususnya pada pasien pria dengan kanker payudara," ujarnya.



"Penelitian ini juga dapat meningkatkan kesadaran kita bahwa pria memang memiliki risiko untuk mengembangkan kanker payudara," kata Boolbol.



American Cancer Society menyarankan supaya kaum pria tetap waspada terhadap risiko perkembangan kanker payudara dengan memperhatikan gejala-gejala yang ditimbulkan seperti benjolan atau bengkak pada payudara, kerutan, kemerahan pada puting susu atau kulit payudara, dan puting rusak.

Source: Kompas.com

Jangan Takut, Benjolan di Payudara Tak Selalu Kanker

,
Kanker payudara secara umum disebabkan oleh ketidaknormalan sel dalam jaringan payudara.  Salah satu tanda atau peringatan yang umum dari kanker ini adalah munculya benjolan dan penebalan pada organ payudara. Walaupun tidak semua benjolan pada payudara merupakan kanker, namun tetap harus diwaspadai. 
Demikian disampaikan oleh spesialis bedah onkologi dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Dr. Sonar Sonny Panigoro, SpB.Onk, di sela-sela acara Kampanye Delapan Tingkatkan Kesadaran Kanker Payudara, Selasa, (8/5/2012), di Jakarta.

"Yang sering dikaburkan di masyarakat kalau ada benjolan pasti dikira kanker, padahal tidak. Hanya 15 persen benjolan yang benar-benar menjadi kanker payudara," ujar Sonar.
Sonar mengungkapkan, sekitar 80 persen benjolan pada payudara selebihnya mungkin hanya berupa tumor jinak, kelainan hormonal, kista, infeksi, benturan atau trauma. Jadi, kalau ada lima orang yang memiliki benjolan hanya satu yang berisiko kena kanker.
Kaum perempuan cenderung memiliki risiko tinggi terkena kanker payudara dibanding pria karena perubahan hormon estrogen dan progesteron yang dimilikinya. Risiko tinggi juga dimiliki oleh seseorang yang memiliki garis keturunan riwayat kanker atau pernah terkena kanker payudara sebelumnya. Selain itu, penggunaan pil kontrasepsi dalam jangka waktu lama, gaya hidup yang tidak sehat, seperti merokok, konsumsi alkohol dan kurang aktivitas juga memicu risiko kanker payudara.
"Jika Anda memiliki gejala seperti pembengkakan pada seluruh atau sebagian payudara, iritasi kulit, payudara atau puting terasa nyeri, puting masuk ke dalam puting atau kulit payudara berwarna kemerahan, keluar cairan dari puting selain air susu serta benjolan di daerah ketiak, segeralah periksakan diri," himbau Sonar.
Sonar menambahkan, penyebab pasti untuk kanker payudara sendiri belum diketahui. Kanker payudara juga masih sulit untuk dicegah. Oleh karena itu, yang saat ini bisa dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut adalah dengan menjalankan pola hidup sehat dan menemukan sedini mungkin kanker payudara.
Kanker payudara terbagi atas non-invasif, dimana sel-sel kanker masih berada di dalam duktus (puting) dan belum menyebar ke jaringan payudara sekitarnya. Sedangkan invasif, kanker payudara telah melewati dinding duktus dan menyebar ke bagian tubuh lain seperti kelenjar getah bening.
"Saat ini data di seluruh rumah sakit menunjukkan bahwa kanker payudara adalah jenis kanker yang paling banyak diderita wanita," tegasnya.
Tingginya risiko tersebut diperkuat dengan data dari Profil Kesehatan Indonesia tahun 2008 yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan Indonesia yang menyatakan bahwa kanker payudara menduduki urutan pertama dari 10 penyakit kanker pada pasien rawat inap di rumah sakit selama periode 2004-2007. Ironisnya, hasil survei Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta tahun 2005 menunjukkan, 80 persen masyarakat tidak tahun pentingnya pemeriksaan payudara secara dini.
Source: Kompas.com

Selasa, 24 April 2012

PATOLOGI UMUM

,
PENGANTAR PATOLOGI UMUM
1.1 PENDAHULUAN
Patologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang penyakit, dimana meliputi pengetahuan dan pemahaman dari perubahan fungsi dan struktur pada penyakit dari tingkat molekuler sampai dengan pengaruhnya pada setiap individu. Patologi membahas penyakit dari segala segi meliputi ; sebab penyakit, sifat, perjalanan penyakit, perubahan anatomi dan fungsional yang disebabkan penyakit tersebut. Patologi mempunyai tujuan utama untuk mengidentifikasi sebab suatu penyakit, yang akhirnya akan memberikan petunjuk dasar pada program pengelolaan dan pencegahan penyakit tersebut. Selain Patologi juga dikenal istilah Patofisiologi, yaitu bagian dari ilmu Patologi yang mempelajari gangguan fungsi yang terjadi pada organisme yang sakit, yaitu meliputi asal penyakit, permulaan dan perjalanan penyakit serta akibat yang ditimbulkannya.

1.2 SEJARAH PATOLOGI
Perkembangan konsep tentang sebab dan kondisi alamiah suatu penyakit pada manusia, telah melahirkan ide-ide mutahir yang menerangkan tentang keseluruhan kejadian dan teknologi baru yang tersedia untuk penemuannya. Pada era sebelum ilmu pengetahuan kedokteran berkembang, yaitu saat permulaan dominasi faham animisme (Plato dan Phytagoras) muncul konsep bahwa penyakit berkaitan erat dengan kekuatan gaib atau supranatural. Kondisi demikian telah melahirkan asumsi bahwa tidak ada manfaatnya mempelajari sesuatu dari mayat atau penderita yang sedang sekarat.
Kesempatan pertama para ilmuwan mempelajari penyakit secara lebih ilmiah ketika dimungkinkan dilakukannya pemeriksaan dalam setelah seseorang meninggal dunia. Autopsi (nekropsi atau pemeriksaan post mortem) yang dilaksanakan secara sistematik dan ilmiah dimulai sekitar tahun 300 BC, telah memberikan informasi yang sangat berharga, yang membantu menjelaskan berbagai keadaan penyakit. Hasil autopsi dihubungkan dengan tanda dan gejala klinik penderita serta riwayat dari berbagai macam jenis penyakit. Dalam era ini oleh karena pemeriksaan lebih banyak dengan pemeriksaan makroskopis organ, maka periode ini dikenal sebagai era morbid anatomy. Pada era ini mikroskop belum ditemukan dan penyebab penyakit belum bisa ditentukan, sehingga penyakit timbul dianggap secara spontan.
Ilmu patologi, dan kedokteran pada umumnya mengalami kemajuan pesat dengan digunakannya mikroskop cahaya untuk mempelajari jaringan yang sakit yang dimulai sekitar tahun 1800. Dengan mikroskop dapat memperlihatkan adanya mikroorganisme di sekitar manusia, diamana hal ini memberi kontribusi yang besar terhadap asumsi sebelumnya sehingga menyangkal teori penyakit yang timbul secara spontan melainkan beberapa disebabkan oleh mikroorganisme patologis berupa bakteri, parasit, dan jamur.
Rudolf Virchow (1821-1902), seorang ahli patologi Jerman mengungkapkan bahwa sel merupakan unsur terkecil yang membentuk tubuh manusia. Virchow juga mempelajari perubahan-perubahan morfologi mikroskopis sel-sel pada jaringan yang sakit dan dikaikan dengan keadaan klinik penderita, karenanya era mikroskop cahaya ini juga dikenal dengan era patologi seluler.
Perkembangan teknologi mikroskop berkembang lagi dengan ditemukannya mikroskop elektron, dimana dengan alat ini tidak hanya bisa melihat sel sebagai bagian terkecil dari unsur yang membentuk tubuh manusia, namun alat ini bisa melihat sampai dengan tingkat molekuler, yang dapat menjelaskan proses-proses secara terperinci dari fenomena perubahan-perubahan molekul-molekul penyusun masa tubuh secara morfologi dan kimiawi. Era ini dikenal dengan era patologi molekuler.


1.3 RUANG LINGKUP PATOLOGI
Pengetahuan tetang penyakit pada manusia berasal dari pengamatan terhadap penderita ataupun dengan menganalogikan percobaan binatang dan pembiakan sel. Secara aplikasi kelimuan tersebut Patologi dibagi menjadi dua ; Patologi Klinis dan Patologi Eksperimental.
- Patologi Klinis
Patologi klinis ialah ilmu patologi yang lebih menekankan pada tingkat penyakitnya sendiri ; mempelajari lebih mendalam tentang sebab, mekanisme, dan pengaruh penyakit terhadap organ / sistem organ tubuh manusia. Ilmu Patologi Klinis memberikan kontribusi besar terhadap Kedokteran klinis yaitu bidang keilmuan yang melakukan pendekatan terhadap sakitnya penderita, meliputi ; pemeriksaan / penemuan klinik, diagnosis dan pengelolaan penyakit. Jadi dua disiplin ilmu tersebut tidak bisa lepas, kedokteran klinik tidak bisa dipraktekkan bila tanpa patologi, demikian juga patologi tidak berarti apapun bila tidak memberikan keuntungan di tingkat klinik.
- Patologi Eksperimental
Patologi eksperimental merupakan suatu bidang ilmu patologi yang melakukan pengamatan atau observasi pengaruh perlakuan / manipulasi terhadap suatu sistem di laboratorium (invitro). Biasanya digunakan binatang percobaan ataupun kultur sel sebagai bahan uji. Kultur / pembiakan sel merupakan temuan menguntungkan dalam perkembangan patologi eksperimental, karena selain menghindari binatang sebagai bahan uji juga memberikan hasil mendekati keadaan sebenarnya, namun demikian uji laborat (invitro) tidak bisa membuat lingkungan fisiologis seperti dalam tubuh manusia (in vivo).

Pembagian Patologi
- Histopatologi : bagian dari ilmu patologi yang mempelajari penyakit (menemukan dan mendiagnosis suatu penyakit) dari hasil pemeriksaan jaringan.
- Sitopatologi : bagian dari ilmu patologi yang mempelajari penyakit (menemukan dan mendiagnosis suatu penyakit) dari hasil pemeriksaan sel tubuh yang didapat / diambil
- Hematologi : bagian dari ilmu patologi yang mempelajari kelainan dalam sediaan darah dan berbagai komponen pembekuan darah.
- Mikrobiologi : bagian dari ilmu patologi yang mempelajari penyakit infeksi dan organisme (mikroorganisme) yang bertanggung jawab terhadap penyakit tersebut.
- Imunologi : bagian dari ilmu patologi yang mempelajari pertahanan spesifik dari tubuh manusia.
- Patologi Kimiawi : bagian dari ilmu patologi yang mempelajari dan mendiagnosis suatu penyakit dari hasil pemeriksaan perubahan kimiawi jaringan dan cairan.
- Genetik : bagian dari ilmu patologi yang mempelajari kelainan-kelainan kromosom dan gen.
- Toksikologi : bagian dari ilmu patologi yang mempelajari tentang racun dan segala aspeknya yang berpengaruh terhadap tubuh manusia.
- Patologi Forensik : bagian dari ilmu patologi yang diaplikasikan untuk tujuan dan kepentingan hukum (misal : menemukan sebab kematian pada kasus kriminal)

Teknik – teknik dalam Patologi
- Patologi Makroskopik
Pengetahuan patologi yang observasinya hanya terbatas dengan menggunakan mata telanjang.
- Mikroskop Cahaya
- Histokimiawi
Mempelajari kondisi kimiawi suatu jaringan, dengan perlakuan menggunakan reagan tertentu maka keadaan jaringan dapat diperlihatkan secara mikroskopis.
- Imunohistokimiawi dan Imunofluoresen
Penggunaan antibodi (imunoglobulin dengan antigen yang spesifik) untuk memperlihatkan substansi yang dikandung jaringan atau sel.
- Mikroskop Elektron
- Teknik Biokimiawi
Pemeriksaan dengan mengidentifikasi senyawa kimia tertentu sebagai metabolit tubuh.

- Teknik Hematologik
Teknik ini digunakan untuk mempelajari dan mendiagnosis suatu kelainan darah.
- Kultur Sel
Pembiakan sel pada suatu media yang digunakan untuk kepentingan penelitian dan penegakan diagnosis suatu penyakit.
- Mikrobiologi Medis
Mikrobiologi medis merupakan ilmu yang mempelajari mikroorganisme khususnya penyebab penyakit, yaitu : bakteri, virus, parasit, jamur,dlsb. Biasanya sediaan diambil dari darah, nanah, dan cairan tubuh lain yang dicat dengan pengecatan khusus.
- Patologi Molekuler
Patologi molekuler digunakan untuk mengetahui berbagai keadaan secara molekuler.

Patologi Umum
Pembagian ilmu patologi yang cakupan keilmuannya meliputi mekanisme dan karakteristik proses suatu penyakit (kelainan kongenital, radang, tumor, degenerasi, dsb)

Patologi Sistematik
Pembagian ilmu patologi yang menekankan pada pengaruh penyakit tertentu terhadap organ / sistem organ (kanker paru, radang usus, dsb)
Patologi Sistemik merupakan karakteristik suatu penyakit yang menyebar secara sistemik ke seluruh tubuh.

Pemahaman Patologi
-etiologi
-patogenesis
-manifestasi (gambaran patologi dan gambaran klinik)
-komplikasi / penyulit
-prognosis
-terapi
-epidemiologi




Penegakan Diagnosis Suatu Penyakit
Penegakan diagnosis suatu penyakit dilakukan dengan langkah-langkah pengumpulan data dasar sebagai berikut :

- Anamnesis
Pengumpulan data yang dilakukan dengan wawancara dengan penderita atau orang lain menyangkut keadaan klinik penderita, berupa keluhan dan riwayat penyakit.
- Pemeriksaan Fisik
Pengumpulan data dengan melihat tanda-tanda yang ada pada penderita sebagai pembuktian dari data yang dikumpulkan dari anamnesis.
- Pemeriksaan Penunjang (Laboratorium, Radiologis, Elektromedik)
Pengumpulan data yang dilakukan bila langkah-langkah di atas belum bisa menegakkan suatu penyakit yaitu meliputi :
o Laboratorium ; memeriksa secara kimiawi, mikrobiologis, dll.
o Radiologis ; pemeriksaan menggunakan pencitraan x-ray, gelombang magnet. Gelombang suara dan radiasi pengion.
o Elektromedik ; pemeriksaan menggunakan kelistrikan untuk mengetahui proses fungsional pada sistem tubuh, misal EKG untuk aktivitas jantung, EEG untuk aktivitas otak, dlsb
- Diagnosis Patologi
Penegakan diagnosis dengan metode patologi yang memeriksa jaringan hasil biopsi atau cairan tubuh.
- Autopsi Post mortem
Kadang diagnosis suatu penyakit dan penyebab kematian belum bisa ditegakkan secara pasti, maka sering untuk keperluan legal dan penelitian dilakukan suatu tindakan autopsi / nekropsi yaitu penegakan dianosis dengan bedah mayat yang dapat diperiksa secara makroskopis ataupun mikroskopis.

1.4 KONSEP PENYAKIT
Penyakit ialah suatu kondisi dimana terdapat keadaan tubuh yang abnormal (terdapat kelainan), yang menyebabkan hilangnya kondisi normal yang sehat.
Penyakit pada dasarnya merupakan reaksi tubuh terhadap suatu rangsangan, baik yang berasal dari luar maupun dari dalam tubuh sendiri, yang mengakibatkan gangguan keseimbangan bentuk ( anatomi ) dan atau fungsi ( fisiologi )-nya.
Adanya suatu penyakit dapat dilihat melalui tanda- tanda dan gejala yang berhubungan dengan abnormalitas yang mendasarinya.
Penyakit pada dasarnya adalah suatu mekanisme adaptasi dari sistem tubuh manusia yang gagal dalam menghadapi paparan penyebab penyakit.

Karakteristik Penyakit
Karakteristik suatu penyakit dapat dicermati dengan melihat beberapa aspek :
Etiologi
- kelainan genetik
- agen infeksi
- bahan kimia
- radiasi
- trauma mekanik

Patogenesis
suatu mekanisme dari proses masuknya penyebab penyakit sampai timbul gejala / manifestasi. Misal : proses radang, degenerasi, karsinogenesis dan reaksi imun.
Manifestasi Bentuk dan Fungsi
- Kelainan Bentuk : wujud kelainan yang berbentuk nyata dan kasat dengan pemeriksaan mata telanjang atau dengan alat.
- Kelainan Fungsi : wujud kelainan tidak nampak tapi terdapat gangguan atau penurunan fungsi dari organ / sistem organ.
- Kelainan Patognomonik : suatu bentuk kelainan yang merupakan pertanda khas dari jenis penyakit tertentu.

Komplikasi
Penyulit atau keadaan lanjut dari suatu penyakit.
Prognosis (suatu pekiraan / dugaan keadaan dari suatu penyakit)
- remisi atau sembuh sempurna, atau mungkin timbul kekambuhan
- morbiditas (tingkat kesakitan)
- mortalitas (tingkat kematian)
- disabilitas (kecacatan)

Epidemiologi
Insiden : jumlah kasus-kasus baru dari suatu penyakit pada populasi tertentu yang diketahui dalam periode tertentu.
Pprevalensi : jumlah keseluruhan kasus dari suatu penyakit pada populasi tertentu dalam suatu waktu.

KELOMPOK PENYAKIT
Sebagian besar penyakit dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Kongenital :
- genetik
- non genetik
2. Didapat :
- radang
- trauma
- kelainan metabolik
- kelainan imunologik
- neoplasma
- degeneratif
- tidak diketahui
Pengelompokan ini berguna dalam diagnosis, yang memungkinkan suatu nama digunakan untuk keadaan sakit tertentu.

Penyakit Kongenital
Penyakit kongenital dimulai sebelum lahir, akan tetapi sebagian dapat memberikan tanda dan gejala setelah dewasa. Penyakit kongenital mungkin disebabkan oleh defek genetik yang diturunkan dari kedua orang tuanya (kelainan genetik dimulai saat pembuahan) atau mutasi genetik (perubahan gen) selama pertumbuhan janin, maupun oleh karena ada faktor luar yang mengganggu pertumbuhan janin tersebut.

Penyakit yang Didapat
Penyakit yang didapat disebabkan oleh faktor lingkungan. Sebagian besar penyakit pada orang dewasa merupakan penyakit yang didapat.

RADANG
Radang atau inflamasi ialah proses reaksi tubuh lokal (di tempat dimana terjadi rangsangan / cedera jaringan.
Radang bukan suatu penyakit, melainkan manifestasi suatu penyakit. Radang merupakan usaha tubuh untuk membatasi kerusakan yang terjadi dan menetralisasi pengaruh penyebabnya.
Berdasarkan waktu kejadiannya, radang diklasifikasikan sebagai :
1. Radang Akut (mendadak)
Yaitu reaksi jaringanyang terjadi segera dan hanya dalam waktu tidak lama (beberapa jam sampai beberapa hari), disertai tanda radang akut.
Tanda radang akut :
a. Warna kemerahan ( rubor )
Jaringan yang mengalami radang akut tampak merah, karena adanya pelebaran pembuluh darah kecil yang mengalami kerusakan.
b. Panas ( kalor )
Peningkatan suhu tampak pada bagian tepi / perifer tubuh, seperti kulit, oleh karena meningkatnya aliran darah ( hiperemia ) melalui daerah tersebut.
c. Bengkak ( tumor )
Pembengkakan sebagai akibat adanya edema (timbunan cairan di dalam ruang ekstravaskuler).
d. Rasa sakit ( dolor )
Rasa sakit disebabkan oleh regangan jaringan akibat edema maupun karena penekanan nanah dalam suatu rongga abses.
e. Hilangnya fungsi ( fungsiolesa )
Gerakan yang terjadipada daerah radang akan mengalami hambatan oleh rasa sakit, atau oleh karena pembengkakan sehingga mengakibatkan berkurangnya gerak.

2. Radang kronik ( menahun )
Radang kronik dapat terjadi dari radang akut yang tidak mengalami perbaikan secara sempurna sehingga berkembang menjadi bentuk kronik, atau sejak semula memang bersifat menahun, disebabkan oleh rangsang menahun / kuman yang virulensi-nya rendah dengan rangsang menahun. Radang kronik berjalan berminggu- minggu sampai bertahun – tahun.

3. Radang subakut
Sebenarnya merupakan tahapan dari radang akut yangakan menjadi menahun.

Radang kronik dapat pula berkembang menjadi akut yang dikenal sebagai radang kronik eksaserbasi akut.
Pemberian nama suatu ardang biasanya berdasarkan jenisorgan yang terkena, ditambah akhiran –itis, contoh : dermatitis ( radang pada kulit ), tonsilitis ( radang pada tonsil ), appendisitis ( radang pada appendiks ). Tetapi ada pula pemberian nama di luar konsep tersebut, misal : pneumonia (radang paru ).

TRAUMA
Trauma dapat langsung menyebabkan penyakit. Kelainan yang terjadi tergantung dari sifat dan besarnya trauma. Trauma dapat berupa trauma fisik ( suhu yang terlalu panas/ dingin,benda tajam/ tumpul, radiasi, syok listrik ), trauma bahan kimia ( cairan asam/ basa, garam mercuri, obat- obatan, racun ), bahan biologis ( mikroorganisme ).

KELAINAN METABOLIK
Beberapa kelainan metabolik dapat merupakan kelainan kongenital ( kesalahan metabolisme waktu lahir dan diturunkan dari orang tua ). Gangguan metabolik yang lain adalah didapat ( misalnya diabetes melitus / penyakit kencing manis ) dan sebagian merupakan kelainan sekunder karena penyakit lain ( misal hiperkalsemia karena hiperparatiroidisme )

KELAINAN IMUNOLOGIK
Imunitas ( kekebalan ) merupakan mekanisme pertahanan tubuh terhadap rangsangan antigen. Suatu reaksi imunologik yang berlebihan akan mengganggu / menyebabkan penyakit.Penyakit auto imun merupakan penyakit sistem imun yang menghasilkan kerusakan jaringan oleh reaksi terhadap antigen sendiri.

NEOPLASMA (TUMOR)
Merupakan penyakit yang ditandai pertumbuhan abnormal dari sel. Neoplasma dapat bersifat jinak / ganas.

DEGENERATIF ( PROSES MENUA )
Pada dasarnya kondisi ini merupakan kondisi fisiologik yang akan terjadi pada lanjut usia. Kemunduran fungsi otak,jantung, otot merupakan proses normal. Pruses degeneratif dapat merupakan suatu kelainan, misalnya pada alkoholisme atau malnutrisi organ hati / hepar akan mengalami proses degenerasi, keadaan ini akan dapat sembuh bila penyebabnya dihilangkan.
 

QIENAZONE Copyright © 2011 | Template design by QIENAZ | Powered by Syauqinaa Sabiilaa