Welcome to QIENAZONE. Thank you for visited my blogsite. Wish it will be useful for you guys. Leave a comment please ^^

Kamis, 04 Oktober 2012

BIOLISTRIK

,

Well, ini tugas paper kuliah saya di Semester 1 lalu, mata kuliah Fisika Kedokteran. hehe. Semoga bermanfaat ^^

Hukum Ohm : Perbedaan potensial antara ujung konduktor berbanding langsung dengan arus yang melewati, berbanding terbalik dengan tahanan dari konduktor.
R = V/I       R  : dalam Ohm
                   I   : Ampere (A)
                   V  : Tegangan (Volt)

Hukum Joule : Arus listrik yang melewati konduktor dengan perbedaan tegangan (V) dalam waktu tertentu menimbulkan panas.
H1(kalori) = VIT/J           V :  Tegangan dalam voltage
                                      I   :  Arus dalam Ampere
                                      T  :  Waktu dalam detik (sekon)
                                             J   :  Joule (0,239 Kal)

Macam-macam Gelombang Arus Listrik :
1.      Arus bolak-balik atau sinusoidal
2.      Arus setengah gelombang
3.      Arus searah penuh tapi mengandung riple/desir
4.      Arus searah murni
5.      Faradik
6.      Surged faradic/sentakan faradik
7.      Surged sinusoidal/sentakan sinusoidal
8.      Galvanik yang interuptus
9.      Arus gigi gergaji

A.      KELISTRIKAN DAN KEMAGNETAN YANG TIMBUL DALAM TUBUH
1.        SISTEM SARAF DAN NEURON
Sistem Saraf Pusat : Terdiri dari otak, medulla spinalis dan saraf perifer (saraf afferen dan efferen)
Sistem Saraf Otonom : Serat saraf ini mengatur organ dalam tubuh
Struktur dasar dari sistem sraf disebut neuron/sel saraf. Suatu sel saraf mempunyai fungsi menerima, interpretasi, dan menghantarkan aliran listrik.

2.        KONSENTRASI DI DALAM DAN DI LUAR SEL
Potensial istirahat pada waktu = 0 dimana ion K akan melakukan difusi dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah sehingga pada saat tertentu akan terjadi membran dipole/membran dua kutub dimana larutan dengan konsentrasi yang tadinya rendah akan kelebihan ion positif, kebalikan dengan larutan yang konsentrasi tinggi akan berubah menjadi kekurangan ion sehingga menjadi lebih negatif. Membran permeabel biasanya permeabel terhadap ion K, Na dan Cl sedangkan terhadap protein besar (A-) sangat tidak permeabel.

3.        KELISTRIKAN SARAF
Dengan menggunakan mikroskop elektron serat saraf dibagi dalam dua tipe yaitu serat saraf bermyelin dan tidak bermyelin. Serat saraf bermyelin banyak terdapat pada manusia. Myelin merupakan insulator (isolasi) yang baik dan kemempuan mengaliri listrik sangat rendah. Potensial aksi makin menurun apabila melewati serat saraf yang bermyelin.
Panjang dan kecepatan aliran listrik pada serat saraf tergantung pada lapisan myelin. Akson tanpa myelin dengan diameter 1 mm mempunyai kecepatan 20-50 m/s. sedangkan dengan diameter 10 m mempunyai kecepatan 100 m/s. pada serat saraf bermyelin aliran sinyal dapat meloncat dari satu simpul ke simpul lain.
Telah diketahui bahwa sel mempunyai lapisan yang disebut membran sel, didalam sel ini terdapat ion Na, K, Cl, dan protein (A-). Sel mempunyai kemampuan memindahkan ion dari satu sisi ke sisi yang lain, disebut aktifitas kelistrikan sel
Suatu saraf atau membran otot pada keadaan istirahat (tidak adanya proses konduksi impuls listrik), konsentrasi ion Na+ lebih banyak di luar sel dari pada di dalam sel.
Potensial aksi merupakan tenomena keseluruhan atau tidak sama seklai (all or none) yang berarti bahwa begitu nilai ambang tercapai, peningkatan waktu dan amplitudo dari potendial aksi akan selalu sama, tidak perduli macam apapun intensitas dari rangsangan. Segera setelah potensial aksi mencapai puncak mekanisme pengangkutan di dalam sel membran dengan cepat mengembalikan ion Na ke luar sel sehingga mencapai potensial membran istirahat (-90 Mv). Proses ini disebut polarisasi dan berakshir. Siklus ini mencapai 3 m detik.

4.        PERAMBATAN POTENSIAL AKSI
Potensial aksi bisa terjadi apabila suatu daerah membran saraf atau otot mendapat rangsangan mencapai nilai ambang. Poternsial aksi itu sendiri mempunyai kemampuan untuk merangsang daerah sekitar sel membran untuk mencapai nilai ambang. Dengan demikian dapat terjadi perambatan poternsial aksi ke segala jurusan sel membran. Keadaan ini disebut perambatan potensial aksi atau gelombang depolarisasi.
Periode Rerfaktrer Absolut : Selama periode ini tidak ada rangsangan, tidak ada unsur kekuatan untuk menghasilkan potensial aksi yang lain.
Perode Refrakter Relatif : Setelah sel membran mendekati repolarisasi seluruhnya maka dari periode refrekter absolut akan menjadi periode refrekter relatif, dan apabila ada stimulus/rangsangan yan gkuat secara normal akan menghasilkan potensial aksi yang baru.

5.        KELISTRIKAN PADA SINAPSIS DAN NEUROMYAL JUNCTION
Hubungan antara dua buah saraf disebut sinapsis. Berakhirnya saraf pada sel otot/hubungan saraf otot disebut Neuromyal Junction.
Baik sinapsis maupun neuromyal junction mempunyai kemampuan meneruskan gelombang depolarisasi dengan cara lompat dari satu sel ke sel yang berikutnya.

6.        KELISTRIKAN OTOT JANTUNG
Membran sel otot jantung tanpa rangsangan dari luar akan mencapai nilai ambang dalam menghasilkan potensial aksi pada suatu rate/kecepatan yang teratur.
Interval waktunya bisa bervariasi oleh karena perubahan dalam hal :
1.     Potensial membran istirahat
2.     Tingkat dari nilai ambang
3.     Slope dari depolarisasi spontan terhadap nilai ambang.
Perubahan ketiga parameter itu sangat memperngaruhi mekanisme kontrol fisologis terhadap frekuensi jantung.


7.        ELEKTRODA
Untuk mengukur potensial aksi secara baik dipergunakan elektroda. Kegunaan dari elektroda untuk memindahkan transmisi ion ke penyalur elektron. Bahan yang dipakai sebagai elektroda adalah perak dan tembaga.
Apabila sebuah elektroda tembaga dan elektroda perak ditempatkan dalam bak berisi elektrolit akan terjadi perbendaan poter=nsial sebanyak 0,80-0,30 = 0,46 V.
Macam-macam bentuk elektroda:
1.     Elektroda Jarum (Mikro Elektroda), berbentuk konsentrik (konsentrik elektroda). Elektoda berbentuk jarum ini digunakan untuk mengukur aktivitas motor unit tunggal.
2.     Elektroda Mikropipet, dibuat daripada gelas. Cara pembuatannya ialah pipa gelas dipanaskan kemudian ditarik cepat-cepat kemudian ujung gelas tersebut dipotong.
3.     Elektroda permukaan kulit, terbuat dari metal atau logam yan gtahan karat misalnya perak, nikel atau alloy.
a.         Bentuk pelat
b.         Bentuk suction cup
c.         Bentuk floating
d.        Bentuk ear Clip
e.         Bentuk batang

8.        ISYARAT LISTRIK TUBUH
a.      EMG (Elektromiogram), pencatatan otot biolistrik selama pergerakan otot. Tujuannya untuk memperoleh informasi tentang aktivitas kelistrikan otot.
b.     ENG (Elektroneurogram). Untuk mengetahui keadaan lengkungan refleks, mengetahui kecepatan konduksi saraf motoris dan sensoris, dan untuk menentukan penderita miastenia gravis.
c.     ERG (Elektroretinogram), pencatatan potensial biolistrik pada retina melalui sangsangan cahaya pada retina.
d.     EOG (Elektrookulogram), pengukuran beda potensial pada kornea-retina akibat perubahan posisi dan gerakan mata.
e.     EGG (elektrogastrogram), yang berkaitan dengan peristaltil traktus gastrointestinalis.
f.      EEG (Elektroensefalogram), pencatatan isyarat listrik otak.
g.     EKG, ECG (Elektrokardiogram), pencatatan isyarat biolistrik jantung, dilakukan pada permukaan kulit.

9.        AKTIFITAS KELISTRIKAN OTOT JANTUNG
Sel membran otot jantung serupa dengan sel membran otot bergaris, yaitu mempunyai kemampuan menuntun suatu perambatan potensial aksi/gelombang depolarisasi. Ini akan menghasilkan kontraksi otot. Hanya saja ada 3 hal penting perbedaan antara sel otot jantung dengan sel oto bergaris, yaitu sel otot jantung mempunyai:
1.     High speed conductive pathway (konduksi berjalan dengan kecepatan tinggi)
2.     Long refractory period (periode refrekter yang penjang)
3.     Automatisasi (otomatis)

B.       ISYARAT MAGNET JANTUNG DAN OTAK
Medan magnet sekitar jantung disebabkan adanya arus listrik jantung yang mengalami depolarisasi dan repolarisasi. Pencatatan medan magnet jantung disebut magnetokardiogram. Besarnya sekitar 5x10-11 Telsa (T) atau sekitar 10x108 medan magnet bumi.
1.        MAGNETOKARDIOGRAFI (MKG)
Penderita ditempatkan dalam ruang oktagonal yang terdiri dari 5 lapisan pelindung magnet. Segala materi disingkirkan dari subjek yan gakan diperiksa. Kemudian magnetodetector probe didekatkan pada tubuh/jantung. Perekamannya hanya berlangsung dalam waktu 1 menit.

2.        MAGNETOENSEFALOGRAM (MEG)
Yaitu pencatatan medan magnet sekaligus sekeliling otak dengan mempergunakan arus searah. Alat yang digunakan adalah SQUID magnometer. Pada ritme alpha medan magnet otak berkisar 1x10-13 T.

C.      PENGGUNAAN LISTRIK DAN MAGNET PADA PERMUKAAN TUBUH
Pada tahun 1890 Jacques A.D. Arsonval telah menggunakan listrik berfrekuensi rendah untuk menimbulkan efek panas. Taun 1929 telah pula menggunakan frekuensi 30 MHz untuk pemanasan yang disebut short wave diathermy. Tahun 1950 diperkenalkan penggunaan gelombang mikro dengan frekuensi 2.450 MHz untuk keperluan diathermy dan pemakaian radar.
1.        FREKUENSI ARUS LISTRIK
1.    Listrik Berfrekuensi Rendah. Yaitu antara 20 Hz sampai dengan 500.000 Hz. Mempunyai efek merangsang saraf dan otot sehingga terjadi kontraksi otot. Contoh alatnya adalah stinulator yang rangkaiannya terdiri dari multivibrator, astable multivibrator.
2.    Listrik berfrekuensi Tinggi. Yaitu arus listrik di atas 500.000 siklus per detik (500.000 Hz) mempunyai sifat merangsang motoris atau saraf sensoris, kecuali dilakukan dengan pengulangan yang sama. Mempunyai sifat memanaskan.
a.    Short Wave Dhiatermy (diatermi gelombang pendek)
                                       i.          Menghasilkan panas dan peningkatan efek fisiologis :
1.    Meningkatkan metabolisme
2.    Suplai darah meningkat
3.    Efek pada saraf
4.    Mengurangi relaksasi otot dan meningkatkan efensisai usaha otot
5.    Terjadi koagulasi
6.    Penurunan tekanan darah
7.    Meningkatkan aktivitas kelenjar keringat
                                          ii.     Mempunyai efek terapeutik (pengobatan) :
1.    Terhadap daerah peradangan
2.    Efek terhadap infeksi bakteri
3.    Menghilangkan rasa sakit
4.    Peningkatan absorpsi dan peningkatan aliran darah pada daerah yang patah.
b.    Micro Wave Dhiatermy (diatermi gelombang mikro), merupakan gelombang elektromagnetis dengan panjang gelombang antara sinar inframerah dan gelombang yang dihasilkan diatermi gelombang pendek. Efek yang ditimbulkan:
                           i.     Efek fisiologis, yaitu menimbulkan panas pada jaringan-jaringan yang banyak mengandung air, dan banyak pula mendeprosit energi.
                           ii.     Efek pengobatan, dipakai untuk mengobati penderita yang mengalami ruda paksa (trauma) dan peradangan.
Gelombang mikro tidak dapat dipakai pada penderita gangguan sirkulasi, dapat mengakibatkan pendarahan, trombosis dan flebitis.
2.        ELECTROCAUTER DAN ELECTROSURGERY
Listrik berfrekuensi tinggi dipergunakan untuk mengontrol pendarahan pada waktu operasi. Biasanya digunakan untuk operasi otak, limpa, vasica felea (kantong empedu), prostat dan serviks.

3.        DEFIBRILLATOR
Penderita yang mengalami fibrilasi telah dilakukan pengobatan melalui massage jantung (metoda mekanik) namun akan sangat berhasil apabila dilakukan syok listrik pada daerah jantung.
1.    AC defibrillator, menggunakan transformator step up dengan tegangan antara 80-300 V, amper berkisar 4-6 A. Penggunaan secara interval 250 mili detik pada frekuensi 60 Hz. Untuk menghilangkan efek kejang-kejang pada otot tulang/otot bergaris.
2.    Capasitive discharge DC defibrillator, menggunakan sirkit kapasitas akan diperoleh pulsa yang singkat dengan amplitudo yang tinggi. Energi yang disimpan kapasitor :
    E = EV2/2
C  =   nilai kapasitor berkisar 10-50 uF
V  =   tegangan berkisar 2-9 kV
E  =   sebesar 400 J
3.    Delay line capasitive discharge DC defibrilator, energinya hanya dengan satu kapasitor saja. Karakteristik pada pelepasan muatan adalah rectangular
4.    Square wave defibrillator, pelepasan muatan dari kapasitor ke tubuh manusia melalui suatu seri SCR (Silicon Control Rectifier). Manfaatnya:
a.         Arus pendek yang rendah
b.         Tidak menggunakan induktor
c.         Kapasitas yang diapakai sangat kecil
d.        Tidak memakai relay

D.      MAGNETIK BLOOD FLOW METER
Yaitu alat pengukur aliran darah magnetis berdasarkan atas prinsip induksi magnetis.
V = B dv           V  =   tegangan (volt)
                                 B  =   kuat medan magnet (gauss)
                                 d   =   diameter pembuluh darah
                                 v   =   kecepatam (m/s)

E.       SYOK LISTRIK
Adalah suatu nyeri pada saraf sensoris yang diakibatkan aliran listrik yang mengalir secara tiba-tiba melalui tubuh. Merupakan kejadian yang timbul secara kebetulan.
1.    Syok dengan tujuan tertentu, ini dilakukan atas dasar indikasi medis. Penderita akan dialiri arus listrik dalam orde 0,5 sampai 1,5 A dengan voltase 80-110 V dalam waktu 1/10 sampai 1/5 sekon.
2.    Syok tanpa tujuan tertentu, timbulnya akibat dari suatu kecelakaan. Ini dikenal dengan Earth Shock :
a.    Low tension shock (syok tegangan rendah)
b.    High tension shock (syok tegangan tinggi)

1.        PARAMETER YANG MEMPENGARUHI SYOK LISTRIK
Syok semakin serius apabila arus yang melewati tibuh semakin besar. (I=V/R)  berarti tegangan penting dalam menentukan berapa arus yang dapat dilewati oleh tahanan yang diberikan oleh tubuh.
1.    Jenis kelamin
a.    Rata-rata threshold untuk laki-laki 16 mA, untuk wanita 10,5 mA
b.    Rata-rata let go current untuk laki-laki 16 mA, untuk wanita 10,5 mA. Minimum let go current untuk laki-laki 9,5 mA, untuk wanita 6 mA.
2.    Frekuensi AC, menurut hasil penelitian Dalziel ternyata frekuensi 50-60 Hz merupakan minimum let go current.
3.    Duration, nilai ambang fibrilasi akan meningkat bila waktu semakin kecil.
4.    Berat badan, nilai ambang fibrilasi akan meningkat dengan meningkatnya berat badan.
5.    Jalan yang ditempuh arus, apabila jalan yang ditempuh arus melewati jantung atau otak akan timbul bahaya syok semakin keras.

2.        PENGARUH SYOK LISTRIK TERHADAP ORGAN TUBUH

Current
(1 secong contact)
Effect
Voltage requred to produce the current eith assumed body resistance
10.000 Ohm
1.000 Ohm
Safe 1 mA,
Current or less values 1-8 mA
Causes no sensation not felt is at threshold perception.
Sensation of shock. Not painfull. Individual can let go at will as muscular control is not last (5 mA is   accepted as maximum harmless current intencity)
10 V

10-8 V
1 V

1-8 V
Unsafe current
8-15 mA
Painfull shock. Individual can let go at will beginning of sustained involuntary muscular control is not last
80-150 V
8-15 V
15-20 mA
Painfull shock, muscular control of adjacent muscles lost. Can not let go.
150-200 V
15-20 V
30-50 mA
Painfull, severe muscular contractions. Breading is difficult
200-500 V
20-50 V
6 Amp
Sustaind ventricular contraction followed by normal heart rhythem (defibrillator). Temporary respiratory paralysis an possibly burns.
60.000 V
6.000 V
3.        PENGOBATAN TERHADAP SYOK lISTRIK
Ringan :
1.    Penderita diistirahatkan
2.    Diberi minum dengan air dingin, tujuannya agar tidak menyebabkan vasodilatasi/pelebaran pembuluh darah dan berkeringat banyak yang dapat menyebabkan penurunan tekanan darah.
Berat :
1.    Penderita ditelentangkan sedemikian rupa agar mudah bernafas.
2.    Pakaian dibuka/dilonggarkan
3.    Apabila kesadaran menurun dan kegagalan pernafasan dapat dilakukan pernafasan buatan “mouth to mouth”
4.    Kalau terjadi jantung berhenti berdenyut, lakukan mesase jantung.

4.        PENCEGAHAN TERHADAP SYOK
Terhadap alat listrik yang digunakan :
1.    Semua alat listrik harus menggunakan three wire cord/ kabel tiga urat dan dihubungkan ke ground sekuat mungkin.
2.    Segala tombol dan tahanan harus berada pada live (kawat fasa)
3.    Seluruh tombol harus “turn off” apabila tidak dipergunakan
4.    Alat pacu jantung harus diisolasi dan hindari dari sentuhan logam
5.    Lakukan prosedur tes secara teratur
6.    Alat-alat listrik diletakkan sedemikian rupa sehingga terhindar dari pegangan penderita.
Terhadap penderita :
Penderita diisolasikan dari ground. Ini agak sulit karena pada EKG monitor kaki kanan penderita selalu dihubungkan ke ground. Untuk menghindari hak itu digunakan transformer.
Terhadap ruangan :
1.    Lantai ruangan terbuat dari bahan tanpa penghantar listrik atau dipasang karpet karet
2.    Ruangan harus sekering mungkin


Sumber : Gabriel, J.F. Fisika Kedokteran. EGC. Jakarta. 1996

Selasa, 02 Oktober 2012

Modalitas Electrotherapy

,

Akhirnya ada waktu buat posting artikel lagi... ^^ maklum... kehidupan mahasiswi kan boleh dibilang complicated yaaah... hehe. But make it feels simple aja ^^ Semoga semua artikel di blog ini bisa bantu temen-temen semua, buat mahasiswa yang lagi cari materi, cari bahan buat tugas, atau lagi inget-inget biar nggak lupa. Semoga bermanfaat buat pengunjung semua. Aamiin... Oh ya, sampe lupa, terimakasih unutk kunjungannya... ^^

Well, buat artikel kali ini Qina mau bahas tentang salah satu modalitas Fisioterapi, yaitu Electrotherapy. Cekidot ah!

Electrotherapy adalah suatu metode yang mendukung kelancaran dan keberhasilan terapi. Modalitas ini memiliki berbagai macam jenis dan fungsi. Alat-alat electrotherapy ini banyak macamnya, begitu juga merk maupun spesifikasinya.



1. SHORTWAVE DIATHERMY (SWD)

Pengertian SWD
Terapi panas penentrasi dalam dengan menggunakan gelombang elektromagnetik frekuensi 27,12 MHz (kalau dosen saya bilang sih 27,33 MHz), panjang gelombang 11 m. 

Tujuan Pemberian SWD

Memperlancar peredaran darah, mengurangi rasa sakit, mengurangi spasme otot, membantu meningkatkan kelenturan jaringan lunak, mempercepat penyembuhan radang.
Penempatan/susunan elektroda
Contraplanar ; paling baik, penentrasi panas kejaringan lebih dalam, dipermukaan berlawanan dengan bagian terapi. 
Coplanar : elektroda berdampingan disisi sama dgn jarak elektroda adequat, pemanasan superficial, jarak antara ke2 elektroda >> lebar drpd elektroda 
Cross fire treatment ; ½ terapi diberikan dgn elektroda 1 posisi, ½ terapi diberikan elektroda posisi lain, pemanasan jaringan dlm seperti untuk organ pelvis 
Monoplanar : elektroda aktif diatas satu lesi, bila yang dituju local & dangkal 

Indikasi SW
Kondisi peradangan dan kondisi sehabis trauma (trauma pd musculoskeletal), adanya keluhan nyeri pd sistem musculoskeletal (kodisi ketegangan, pemendekan, perlengketan otot jaringan lunak), persiapan suatu latihan/senam (untuk gangguan pada sistem peredarah darah) 

Kontraindikasi SWD
Keganasan, kehamilan, kecendrungan terjadinya pendarahan, gangguan sensibilitas, adanya logam di dalam tubuh, lokasi yang terserang penyakit pembuluh darah arteri. 

Teknik aplikasi SWD
Pre pemanasan alat 5-10 menit, jarak antara elektroda dengan pasien 5-10 cm/1 jengkal, durasi 15-30 menit, intensitas sesuai dengan aktualitas patologi, posisikan pasien senyaman mungkin, terbebas dari pakaian dan logam, tes sensibilitas, pasang elektroda, pasien tidak boleh bergerak, intensitas dipertahankan sesuai dgn toleransi pasien.


2. MICROWAVE DIATHERMY (MWD)

Pengertian MWD
Suatu aplikasi terapeutik dengan menggunakan gelombang mikro dlm bentuk radiasi elektromagnetik yg akan dikonversi dalam bentuk dengan frekuansi 2456 MHz dan 915 MHz dengan panjang gelombang 12,25 arus yang dipakai adalah arus rumah 50 HZ, penentrasi hanya 3 cm, efektif pada otot 

Indikasi MWD
Selektif pemanasan otot (jaringan kolagen), spasme otot (efektif untuk sendi Inter Phalangeal, Metacarpal Phalangeal dan pergelangan tangan, Rheumathoid Arthritis dan Osteoarthrosis), kelainan saraf perifer (neuralgia neuritis) 

Kontraindikasi MWD
Adanya logam, gangguan pembuluh darah, pakaian yang menyerap keringat, jaringan yang banyak cairan, gangguan sensibilitas, neuropathi (timbul gangguan sensibilitas dan diabetes melitus), infeksi akut, transqualizer (alat pada pasien dengan gangguan kesadaran), sesudah rontgen (konsentrasi EM berkelebihan), kehamilan, saat menstruasi. 


Efek fisiologis yang ditimbulkan dari pemberian MWD

Terjadinya perubahan panas ; yang sifatnya lokal jaringan yang meningkatkan metabolisme jaringan lokal, meningkatkan vasomotion sehingga timbul homeostatik lokal yang akhirnya menimbulkan vasodilatasi. Perubahan panas secara general yang menaikkan temperatur pada daerah lokal. 

Teknik aplikasi MWD: 
• Persiapan alat, tes alat, pre pemanasan 5-10 menit, jarak <10cm dari kulit • persiapan pasien : bebaskan dari pakaian dan logam, posisikan pasien senyaman mungkin, tes sensibilitas, jarak 5-10 cm, durasi 20-30 menit. alat 2456MHz, frekuensi terapi 3-5 x/minggu, intensitas 50-100 watt (toleransi pasien), dosis intensitas ditentukan oleh aktualitas patologi (aktualitas rendah : thermal, aktualitas sedang : subthermal, aktualitas tinggi : a thermal)


3. ULTRASOUND (US)

Pengertian US
Terapi dgn menggunakan gelombang suara tinggi dgn frek 1 atau 3 MHz (>20.000 Hz). 

Tujuan pemberian US
Mengurangi ketegangan otot, mengurangi rasa nyeri, memacu proses penyembuhan collagen jaringan (dipilih untuk jaringan kedalaman < dari 5 cm) Penentrasi terdalam dlm setiap media:
• Tulang : penentrasi 7 mm pada frekuensi 1 MHz 
• Kulit : penentrasi 36 mm pada frekuensi 1 MHz, pd 3 MHz 12 mm • tendon : penentrasi 21 mm pada frekuensi 1 MHz, pd 3 MHz 7 mm 
• Otot : penentrasi 30 mm pada frekuensi 1 MHz, pd 3 MHz 7 mm 
• Lemak : penentrasi 165 mm pada frekuensi 1 MHz, pd 3 MHz 55 mm 
• 3 MHz penentrasi : 1/3 dari frek 1 MHz 
• intensitas terapi : kontinu. intensitas rendah <0,3 W/cm², intensitas sedang 0,3-1,2 W/cm², intensitas kuat 1,2-3W/cm². untuk efek terapeutik 0,7-3 MHZ. 
• Frekuensi : untuk kasus pada kondisi subakut à waktu 3 menit, pengulangan 1x1hari, sehari 10x. Untuk kasus pada kondisi kronik à waktu 5-10 menit, pengulangan 1x1 hari atau 1x2 hari, sehari 12-18x. 

Metode US
A. Kontak langsung : paling banyak digunakan ; perlu adanya media coupling (Gel, water oil, pasta analgetik, water). 
Syarat media coupling:
- harus steril, tidak terlalu cair
- tidak terlalu mudah diserap tubuh
- tidak menimbulkan flek/pekat. 
B. Kontak tidak langsung : sub aqual (dalam air) 
- di dalam air, hal ini dilakukan bila regio yang akan diterapi areanya kecil dan tidak rata permukaannya (trigger finger, Rheumathoid Arthtritis jari-jari. water pillow à kantong plastik/karet mengandung air, kontak dipermukaan tubuh tidak rata; medium antara sisi kantong – kulit, sisi kantong – tranduser. 

Teknik Aplikasi US 
• Sebelum terapi : lakukan assesment, tes sensibilitas, lokalisasi daerah terapi, tentukan metode (langsung/tidak langsung), beri penjelasan kepada pasien : “ bapak/ibu saya akan memberikan terapi Ultrasound nanti rasanya seperti dipijat dan sedikit hangat gunanya untuk memperbaiki jaringan yg rusak sehingga akan mengurangi nyeri”
• Persiapan alat 
• Persiapan pasien Penatalaksanaan US 
• Berikan gel pada daerah yang akan diterapi 
• Ratakan gel dgn tranduser, nyalakan alat
• Timer ditentukan dari = luas area dibagi dengan luas ERA 
• Intensitas ditentukan oleh aktifitas patologi : 
  - aktivitas tinggi : dosis rendah (1-1,5 W/cm²)
  - aktivitas sedang : dosis sedang (1,5-2 W/cm²) 
  - aktivitas rendah : dosis tinggi (2-3 W/cm²) 
  - Intensitas/durasi : pada kondisi akut à intermiten ; pada kondisi kronik à continous 
  - Ultrasound dengan air (untuk kasus sendi kecil dan permukaan tidak rata), penerapannya : Tidak langsung bersentuhan dengan air, jaraknya 1,5-2,5 cm 
• Untuk tranduser 1 MHz : penentrasi lebih dalam, tapi area konvergen 3x lebih kecil. Untuk tranduser 3 MHz : penentrasi lebih kecil tapi area konvergen 3x lebih besar. 

Efek US 
> Mekanis : menimbulkan efek micromassage -> dilatasi -> inflamasi
> Thermal : menimbulkan efek panas tranduser lebih kecil dimana panas ringan sampai 5 cm (deep) dan lebih dominan pada continue.
> Piezoelectric : perubahan muatan membran sehingga terjadi proses kimiawi di jaringan di sekitarnya
> Biologis : menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah à meningkatkan sirkulasi darah -> meningkatkan permeabilitas dan regenerasi jaringan à menimbulkan rileksasi otot sehingga akan mengurangi nyeri. 

Indikasi US
kondisi peradangan dan traumatik sub akut dan kronik, adanya jaringan parut (scar tissue) pada kulit, kondisi ketegangan, pemendekan dan perlengketan jaringan lunak (otot, tendon, ligament). 
Kondisi inflamasi kronik ; oedema -> gangguan sirkulasi darah, contoh kasus yg termasuk indikasi Ultrasound : Rheumathoid Arthrosis, Osteoarthrosis Genu, Hernia Nucleus Pulposus, Low Back Pain, spasme cervical, tennis elbow, frozen shoulder.

Kontra indikasi US
jaringan yang lembut (mata, ovarium, testis, otak), jaringan yang baru sembuh, jaringan/granulasi baru, kehamilan, pada daerah yang sirkulasi darahnya tidak adekuat, tanda-tanda keganasan, infeksi bakteri spesifik.


4. Transcutaneus Electrical nerve stimulation (TENS)



Pengertian TENS

> Transcutaneus Electrical nerve stimulation (TENS) merupakan suatu cara penggunaan energi listrik guna merangsang sistem saraf melalui permukaan kulit dan terbukti efektif untuk merangsang berbagai tipe nyeri 
> Pada TENS mempunyai bentuk pulsa : Monophasic mempunyai bentuk gelombang rectanguler, trianguler dan gelombang separuh sinus searah; biphasic bentuk pulsa rectanguler biphasic simetris dan sinusoidal biphasic simetris; pola polyphasic ada rangkaian gelombang sinus dan bentuk interferensi atau campuran. 
> Pulsa monophasic selalu mengakibatkan pengumpulan muatan listrik pulsa dalam jaringan sehingga akan terjadi reaksi elektrokimia dalam jaringan yang ditandai dengan rasa panas dan nyeri apabila penggunaan intensitas dan durasi terlalu tinggi. 

Tujuan pemberian TENS
Memeilhara fisiologis otot dan mencegah atrofi otot, re-edukasi fungsi otot, modulasi nyeri tingkat sensorik, spinal dan supraspinal, menambah Range Of Motion (ROM)/mengulur tendon, memperlancar peredaran darah dan memperlancar resorbsi oedema 

Frekuensi Pulsa
• Frekuensi pulsa dapat berkisar 1 – 200 pulsa detik.
• Frekuensi pulsa tinggi > 100 pulsa/detik menimbulkan respon kontraksi tetanik dan sensibilitas getaran sehingga otot cepat lelah 
• Arus listrik frekuensi rendah cenderung bersifat iritatif terhadap jaringan kulit sehingga dirasakan nyeri apabila intensitas tinggi. Arus listrik frekuensi menengah bersifat lebih konduktif untuk stimulasi elektris karena tidak menimbulkan tahanan kulit atau tidak bersifat iritatif dan mempunyai penetrasi yang lebih dalam. 

Penempatan Elektroda
• Di sekitar lokasi nyeri : Cara ini paling mudah dan paling sering digunakan, sebab metode ini dapat langsung diterapkan pada daerah nyeri tanpa memperhatikan karakter dan letak yang paling optimal dalam hubungannya dengan jaringan penyebab nyeri 
• Dermatome :Penempatan pada area dermatome yang terlibat, Penempatan pada lokasi spesifik dalam area dermatome, Penempatan pada dua tempat yaitu di anterior dan di posterior dari suatu area dermatome tertentu
• Area trigger point dan motor point

Indikasi TENS
Kondisi LMNL(Lower Motor Neuron Lesion) baru yang masih disertai keluhan nyeri, kondisi sehabis trauma/operasi urat saraf yang konduktifitasnya belum membaik, kondisi LMNL kronik yg sdh terjadi partial/total dan enervated muscle, kondisi pasca operasi tendon transverse, kondisi keluhan nyeri pada otot, sebagai irritation/awal dari suatu latihan, kondisi peradangan sendi (Osteoarthrosis, Rheumathoid Arthritis dan Tennis elbow), kondisi pembengkakan setempat yang belum 10 hari

Kontra Indikasi TENS
Sehabis operasi tendon transverse sebelum 3 minggu, adanya ruptur tendon/otot sebelum terjadi penyambungan, kondisi peradangan akut/penderita dlm keadaan panas

Prosedur TENS
• Tingkat analgesia-sensoris : frekuensi 50-150 Hz, durasi pulsa <200 (60-100) mikrodetik 
• Tingkat analgesia untuk rasa nyeri : frekuensi 150 Hz, durasi pulsa >150 mikrodetik
• Persipan pasien (kulit harus bersih dan bebas dari lemak, lotion, krim dll), periksa sensasi kulit, lepaskan semua metal di area terapi, jangan menstimulasi pada area dekat/langsung di atas fraktur yg baru/non-union, diatas jaringan parut baru, kulit baru.


5. PARAFIN BATH


Pengertian

Pengobatan panas superficial dgn modalitas rendaman hangat parafin.

Tujuan
Preliminary terhadap metoda intervensi lain (mobilisasi sendi, massage), memperlancar peredaran darah, mengurangi rasa sakit, menambah kelenturan jaringan perifer, lingkup gerak sendi, dipilih untuk tangan dan kaki.



Metode Aplikasi

> Metode Deep : mencelupkan kaki/tangan kedalam cairan parafin bath -> terbentuk permukaan parafin padat dan tipis yang meliputi kulit -> tarik kembali -> ulang 8-10x -> sampai terbentuk sarung tengan tebal (mengisolasi bagian tubuh terhadap kehilangan panas) -> bungkus dengan handuk kering untuk mempertahankan panas -> lama 15-20 menit -> setelah itu sarung tangan parafin dilepas

> Metode immersion : mencelupkan tangan/kaki secara terus-menerus kedalam cairan parafin -> terbentuk sarung tangan pada sekitar kulit -> lama 20-30 menit -> lebih efektif meningkatkan temperatur jaringan tapi resiko luka bakar
> Metoda breshing : dengan menggunakan kuas -> untuk area yang tidak dijangkau (pinggang, hip, pada regio yang besar)



6. ULTRA VIOLET (UV)

Pengertian
Pancaran gelombang elektromagnetik. Dengan panjang gelombang 1800A-4000A, dikelompokan : 
Far UV -> 1800-2900A, daya tembus -> stratum korneum; 
Near UV -> 2900-4000A, daya tembus -> stratum spinosum

> Upaya pengobatan modalitas sinar superficial dgn menggunakan sinar ultra violet gelombang panjang (UV B) atau gelombang pendek (UV A)
> UV A (3450-4000A) tanning (pewarnaan) dengan sedikit eritema kulit, immediate banyak terjadi, tidak semua orang tampak pada penyinaran 1 jam, hilang dalam beberapa hari
> UV B (2800-3150A): uremik pruritus, eritema kulit, terbakar
> UV C (1800-2800 A)
> Struktur kulit dari kulit paling luar ke dalam àlapisan dermis : stratum korneum/lapisan tanduk, stratum lusidum, stratum granulosum, stratum spinosum, stratum basale(pigmen); lapisan dermis : pars papilare & pars retikularis; Lapisan subkutis. 

Tujuan Pemberian UV
Untuk meningkatkan sistem pertahanan tubuh, mempercepat penyembuhan luka terbuka, penyembuhan penyakit kulit tertentu
• Efek lokal 
o Erytema, adalah kemerah-merahan pada kulit dan merupakan hal pertama yang dapat diobserfasi sebagai efek penggunaan UV. Eritema dicapai sekitar 24 jam kemudian, eritema merupakan hasil stimulasi reaksi inflamasi oleh sinar UV. UV dapat menyebabkan iritasi dan perubahan degeneratif pada jaringan epidermis. Stimulasi tersebut merupakan respon dilatasi kapiler, arterioler dan eksudasi (pengaliran cairan) pada jaringan.
o Pigmentasi à merupakan peningkatan pigmen melanin yg dibentuk oleh melanoblast yang berpindah kelapisan lebih superficial pada epidermis. UV dpt mempercepat produksi melanin melalui stimulasi produksi enzim tyrosinase pada melanoblast
o Desquamasi adalah pengelupasan sel-sel kulit mati yang terjadi pada jaringan kulit
o Pertumbuhan sel-sel epitel adalah peningkatan sebagai bagian dari proses perbaikan jaringan dimana sel-sel basal berpindah ke sel-sel diepidermis
• Efek antibiotik, merupakan efek destruktif akibat radiasi UV terhadap virus, bakteri dan organisme-organisme kecil pada permukaan kulit 

Indikasi UV
radikal general -> penderita dengan kondisi tubuh rendah (alergi, asmatis, bronchitis), anak-anak yang mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan dan aktivitas (anak premature, Cerebral Palsy)
Radiasi lokal -> penyakit kulit karena jamur, luka lama (decubitus), hipopigmentasi (bekas luka terbakar), acne vulvagaris

Kontra Indikasi UV
Penyakit yang akut (TBC, paru, dermatitis, exim), penderita yang sedang mendapat radioterapi, penderita alergis terhadap sinar UV, sensitiser (adanya kemungkinan penderita menjadi sensitive terhadap sinar UV setelah pengobatan dengan obat-obatan tertentu, misal : sulfa, insuline, thyroid extract, kinine, gold therapy 

Derajat Eritema UV
- Derajat I : MED (Minimal Erytema Dosage), dosis UV yang dalam beberapa jam menyebabkan eritema minimal, dimana untuk menentukan dosis terapi, periode laten 6-8 jam, hilang 24-36 jam, iritasi berkurang & pengelupasan kulit berkurang
- Derajat II : 2,5 MED, periode laten 4-6 jam, menghilang 48-96 jam, sedikit iritasi dan pengelupasan kulit.
- Derajat III : 5 MED, periode laten 3-4 jam, menghilang 6-10 hari, panas, nyeri, oedem, pengelupasan kulit, mirip luka bakar, pigmentasi menambah
- Derajat IV : 10 MED, periode laten 2 jam, menetap selama beberapa hari, hilang sampai 2 minggu 

Prosedur penggunaan UV
Dosis :
• Untuk radiasi general -> dosis : sub erytema, pengulangan 1x1 hari, 1 seri 12x
• Untuk radiasi lokal -> dosis E II pengulangan 3 hari 1x, E III pengulangan 3 minggu 1x, E IV pengulangan 2 minggu 1x

Teknik aplikasi
Sebelum terapi dilakukan tes MED (Minimal Erytema Dosage). Posisikan pasien senyaman mungkin, tutup semua bagian kecuali area yang akan di tes, bersihkan dulu dengan alkohol. Area yang akan diterapi diberi karbon hitam yang ada lobangnya, area lain ditutup rapat, untuk terapis pakai kacamata. Timer dlm detik, alat tegak lurus pd kulit, jarak lampu dari kulit 60-90 cm.



Ada beberapa merk dari semua modalitas Electrotherapy di atas, seperti Enraf Nonius, BTL, Physiomed, dan lain-lain. Well, nanti Qina posting bahasan modalitas Electrotherapy satu per satu. Semoga bermanfaat ^^





 

QIENAZONE Copyright © 2011 | Template design by QIENAZ | Powered by Syauqinaa Sabiilaa