Welcome to QIENAZONE. Thank you for visited my blogsite. Wish it will be useful for you guys. Leave a comment please ^^

Minggu, 19 Mei 2013

Osteonekrosis Hip (AVN Caput Femur)

,
BAB I
PENDAHULUAN


A.           Latar Belakang
Tulang adalah jaringan hidup, dan seperti semua jaringan hidup mereka bergantung pada pembuluh darah untuk membawa darah yang akan memberikan asupan nutrisi yang membuat mereka hidup. Sebagian besar jaringan hidup memiliki pembuluh darah yang datang dari berbagai arah ke dalam jaringan. Jika salah satu pembuluh darah rusak mungkin tidak menimbulkan masalah, karena mungkin ada suplai darah cadangan yang datang dari arah yang berbeda. Sendi tertentu dari tubuh, bagaimanapun, hanya memiliki beberapa pembuluh darah. Salah satunya adalah sendi hip. Sendi hip (caput femur) merupakan tempat yang paling sering mengalami  osteonekrosis.
Pendekatan fisioterapi yang dapat diberikan pada kasus osteonekrosis hip diantaranya heating untuk memperlancar peredaran darah, merileksasi jaringan sehingga dapat mengurangi nyeri dan bengkak. Terapi latihan dapat diberikan dengan tujuan menambah lingkup gerak sendi dan meningkatkan kekuatan otot.

B.            Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas maka rumusan masalah makalah ini adalah :
1.             Bagaimana Anatomi Biomekanik sendi Hip?
2.             Apa yang dimaksud dengan Osteonekrosis Hip?
3.             Apa penyebab, tanda gejala, dan faktor resiko dari Osteonekrosis Hip?
4.             Bagaimana perubahan patologi dari Osteonekrosis Hip?
5.             Intervensi fisioterapi apa yang bisa diberikan pada kondisi Osteonekrosis Hip?


C.           Tujuan
Dari rumusan masalah diatas maka tujuan dari makalah ini adalah :
1.             Mengetahui Anatomi Biomekanik dari sendi Hip.
2.             Mengetahui definisi Osteonekrosis Hip
3.             Mengetahui penyebab, manifestasi klinis, dan faktor resiko dari Osteonekrosis Hip.
4.             Mengetahui perubahan patologi dari Osteonekrosis Hip.
5.             Mengetahui intervensi apa yang bisa diberikan pada kondidi Osteonekrosis Hip.

D.           Manfaat
1.             Bagi penulis
Dapat lebih dalam mengenal oateonekrosis hip sehingga dapat menjadi bekal untuk penulis setelah lulus.
2.             Bagi masyarakat
Memberikan informasi yang benar kepada masyarakat sehingga dapat lebih mengenal dan mengetahui gambaran osteonekrosis hip dalam pendekatan fisioterapi.
3.             Bagi pendidikan
Memberikan informasi ilmiah bagi penulis mengenai osteonekrosis hip bagi penulis selanjutnya.
4.             Bagi institusi kesehatan
Dapat memberikan informasi obyektif mengenai osteonekrosis hip kepada tenaga medis, baik yang bekerja di rumah sakit maupun puskesmas.
5.             Bagi fisioterapi
Dapat lebih mengetahui secara mendalam mengenai osteonekrosis hip atau dapat digunakan dalam pelaksanaan terapi



BAB II
PEMBAHASAN


A.           Anatomi Biomekanik
Hip joint merupakan triaxial joint (ball and socket joint), karena memiliki 3 bidang gerak. Hip joint juga merupakan hubungan proksimal dari extremitas inferior. Selama berjalan, gaya dari extremitas inferior ditransmisikan keatas melalui hip ke pelvis dan trunk, dan aktivitas extremitas inferior lainnya. Dalam suatu gerak fungsional, terjadi hubungan antara pelvic girdle dan hip joint. Pelvic girdle akan mengalami tilting dan rotasi selama gerakan femur.
Hip joint dibentuk oleh caput femur yang konveks bersendi dengan acetabulum yang konkaf. Hip joint adalah ball and socket (spheroidal) triaxial joint. Acetabulum terbentuk dari penyatuan os ilium, ischium, dan pubis. Seluruh acetabulum dilapisi oleh cartilago hyaline, dan pusat acetabulum terisi oleh suatu massa jaringan lemak yang tertutup oleh membran synovial.
aput femur secara sempurna ditutup oleh cartilago hyaline. Pada pusat caput femur terdapat lubang kecil yang dinamakan dengan fovea capitis yang tidak ditutup oleh cartilago hyaline. Caput femur membentuk sekitar 2/3 dari suatu bola. Hip joint diperkuat oleh kapsul sendi yang kuat, ligamen iliofemoral, pubofemoral, dan ischiofemoral.

B.            Patologi
1.             Definisi
Nekrosis Avaskular (AVN) adalah penyebab lain degenerasi sendi pinggul. Pada kondisi ini, kepala tulang paha (bagian bola femur, atau tulang paha) kehilangan porsi penting asupan darahnya dan mulai mati (Osteonekrosis). Kepala tulang paha yang mati tidak dapat menahan tekanan besar yang ditransmisikan melalui sendi pinggul saat aktivitas normal seperti jalan kaki, naik tangga dan secara meningkat cacat. AVN dihubungkan dengan alkohol, keretkan dan dislokasi pinggul, serta perawatan steroid jangka panjang untuk penyakit lainnya.
a.       Nekrosis pasca traumatik muncul segera setelah cedera pinggul yang biasanya parah, tetapi gejala dan tanda-tanda nekrosis biasanya memerlukan beberapa bulan untuk timbul.
b.        Nekrosis idiopatik lebih lambat terjadinya. Pasien biasanya pria berusia 20-50 tahun yang mengeluhkan nyeri pinggul (atau, diatas 50% kasus, pada kedua pinggul), yang berkembang selama periode 2-3 tahun sampai menjadi cukup parah.
Semua suplai darah masuk ke dalam bola yang membentuk sendi panggul melalui leher femur (leher femoralis), daerah yang lebih tipis dari tulang yang menghubungkan bola ke poros. Jika suplai darah rusak, tidak ada cadangan. Kerusakan pada pasokan darah dapat menyebabkan kematian tulang yang membentuk bola bagian tulang paha. Setelah ini terjadi, tulang tidak lagi mampu mempertahankan dirinya.
Dalam stadium 1 pasien tidak atau sedikit nyeri dan sinar-X polos tidak menunjukkan abnormalitas. Dalam stadium 2 ada tanda-tanda sinar-X dini tetapi caput femoris secara struktural utuh. Stadium 3 lebih parah, disertai tanda-tanda peningkatan distorsi caput femoris atau fragmentasi. Stadium 4 ditandai dengan hancurnya permukaan sendi dan osteoarthritis sekunder.
Stadium Osteonekrosis
Osteonekrosis Traumatik
Osteonekrosis Nontraumatik
I
Reduksi dan fiksasi
Dekompresi
II
Pencangkokan tulang
Dekompresi
III   Muda


       Tua
Osteotomi dan pencangkokan

Penggantian sendi
Osteotomi dan pencangkokan

Pencangkokan
IV
Penggantian sendi
Penggantian sendi

2.             Etiologi
a.             Cedera langsung pada hip dapat merusak pembuluh darah.
b.             Fraktur. Vertikal oblique fraktur pada collum femoris (70° atau lebih) dapat merusak pembuluh darah sehingga aliran darah terputus.
c.             Hip dislocation.
3.             Patofisiologi
Tulang yang mati strukturnya sukar dibedakan dengan tulang yang masih hidup.perubahan dimulai dalam seminggu setelah periode iskemik sampai 2-4 tahun; hal ini sama untuk semua tipe osteonekrosis, walaupun kelainan dasarnya dapat juga dijumpai.
Sel tulang mati seletah 12-48 jam mengalami anoksia, bisa beberapa hari atau minggu. Pada saat ini perubahan histologi yang paling jelas terlihat pada sumsum tulang: hilangnya lapisan lemak sel, infiltrasi oleh sekumpulan sek disekitarnya, tampak histiosit jaringan, dan sumsum tulang nekrosis digantikan oleh jaringan mesenkim undifferentiated. pada stadium awal ini bisa terlihat proliferasi osteoblastik yang menandakan perbaikan tulang. Maka batas jaringan yang nekrotik menjadi jelas, lalu granulasi jaringan pembuluh darah tumbuh dari jaringan yang masih hidup. Dan tulang baru tumbuh di atas yang mati. Hal ini membentuk gambaran: lapisan (1) pecahan halus pada bagian subkondral tulang, (2) fraktur tangensial linier berdekatan dengan permukaan sendi, dan (3) fraktur shearing pada permukaan dalam antara tulang yang mati dan hidup.
Perkembangan osteonekrosis awalnya asimptomatik lalu lesi berkembang seiring dengan waktu. Nyeri merupakan keluhan utama, kadang-kadang pasien merasakan klik pada sendinya. Selanjutnya sendi menjadi kaku dan mengalami deformitas. Nyeri tekan lokal bisa dijumpai bila yang terkena bagian tulang yang superficial.
4.             Faktor Resiko
a.  Pengguna obat-obatan kortikosteroid
b.  Pecandu alkohol
c.  Goucher disease
d.  Pregnancy (rare)
5.             Manifestasi Klinis
a.  Pada pemeriksaan, pasien berjalan pincang.
b.  Mungkin menunjukkan tanda trendelen burg positif.
c.  Paha mengecil dan anggota tubuh dapat memndek 1-2 cm.
d.  Gerakan terbatas, terutama abduksi dan rotasi internal.
e.  Nyeri pada paha bagian depan.

C.           Fisioterapi
1.             Tanpa Pembedahan.
a.             Fisioterapi dapat sangat efektif dalam mengobati AVN caput femoris jika terdeteksi dini.
b.             Ice adalah modalitas yang sangat berguna untuk mengurangi rasa sakit. Juga dapat menggunakan modalitas listrik seperti ultrasound atau arus interferential untuk mengurangi rasa sakit dan peradangan.
c.             Massage, terutama untuk pantat, punggung, atau anterior dan lateral otot pinggul, juga dapat membantu.
d.            Penurunan beban pada sendi panggul dapat sangat efektif dalam memungkinkan tulang untuk penyembuhan serta mengelola rasa sakit. Beban ini menurun dicapai dengan menggunakan kruk atau walker. Fisioterapis anda akan mengajarkan cara aman menggunakan kruk atau walker. Jika memiliki tangga di rumah, fisioterapis juga akan menunjukkan bagaimana menggunakan kruk di tangga untuk memastikan mobilisasi selama menggunakan alat bantu tersebut. Jumlah optimal waktu untuk menggunakan alat bantu berjalan positif mempengaruhi penyembuhan AVN akan ditentukan oleh fisioterapis yang tentunya dalam kaitannya dengan saran dari dokter atau ahli bedah.
e.             Memobilisasi sendi pinggul. Mobilisasi pinggul dapat dikombinasikan dengan dibantu peregangan setiap otot-otot di sekitar sendi.
f.              Streghtening exercise. Latihan-latihan ini akan fokus pada otot-otot pinggul dan paha.
2.             Setelah Pembedahan.
Bebereapa dokter bedah menginginkan untuk segera dilakukan fisioterapi setelah dilakukan pembedahan.
a.             Setelah operasi pasien menggunakan alat bantu berjalan seperti walker atau kruk selama enam minggu atau lebih. Pasien yang memiliki pencangkokan pembuluh darah tulang diperlukan untuk membatasi penumpuan berat badan pada hip selama enam bulan.
b.             Pada pertemuan pertama fisioterapi akan memastikan penggunaan alat bantu jalan dengan aman, benar, dan percaya diri, serta mengetahui pembatasan bantalan berat badan. Dengan kruk kami akan memastikan bahwa Anda dapat dengan aman menggunakannya di tangga. Anda untuk ambulating tanpa bantuan berjalan sama sekali.
c.             Menggunakan modalitas seperti ice, heat, ultrasound, atau electrical stimulation untuk membantu mengurangi rasa sakit atau bengkak di sekitar lokasi bedah. Selain itu, dapat diberikan massage untuk meningkatkan sirkulasi dan membantu mengurangi rasa sakit.
d.            Mobilisasi sendi pinggul. Dapat dikombinasikan dengan peregangan.
e.             Strengthening. Ini adalah komponen penting dari rehabilitasi pasca-operasi. Latihan akan berfokus terutama pada otot-otot pinggul dan paha.
f.              Pemberian electrical stimulation untuk membantu kontraksi otot-otot hip, ini akan membantu lebih cepat untuk mengembalikan kekuatan otot kembali.
BAB III
PENUTUP


A.           Simpulan
Makalah ini dapat diambil simpulan bahwa osteonekrosis hip dapat terjadi pada remaja, atlet, dan orang yang mengalami cedera pada hip-nya. Osteonekrosis hip juga merupakan faktor resio terjadinya osteoarthritis hip.
Dari permasalahan yang timbul pada osteonekrosis hip, fisioterapi dapat melakukan penanganan konservatif (post operasi maupun tanpa operasi) yaitu mengurangi nyeri, mengurangi bengkak, mengurangi spasme otot-otot penggerak hip, meningkatkan kekuatan otot, menambah LGS dan mengingkatkan aktifitas fungsional dengan modalitas fisioterapi.

B.            Saran
1.             Keberhasilan suatu terapi tidak hanya dicapai oleh satu ilmu disiplin saja, sebaiknya tim rehabilitasi saling bekerja sama untuk mencapai tujuan baik jangka panjang maupun jangka pendek.
2.             Seorang fisioterapi disarankan untuk memberikan pelayanan sebaik-baiknya serta harus menggunakan proses fisioterapi secara tepat dan sesuai kondisi pasien.




DAFTAR PUSTAKA


Anonim. Avaskular Nekrosis. Dilihat tanggal 16 Mei 2013. <http://www.activemotionphysio.ca/Injuries-Conditions/Hip/Hip-Issues/Avascular-Necrosis-of-the-Hip/a~5525/article.html>
Apley, A Graham. 1995. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley. Jakarta: Penerbit Widya Medika.
Manurung, Evan. Struktur Anatomi Hip. Dilihat tanggal 16 Mei 2013. <http://evan-biomekanik-ankle.blogspot.com/2009/11/struktur-anatomi-hip.html>

0 comment to “Osteonekrosis Hip (AVN Caput Femur)”

Poskan Komentar

 

QIENAZONE Copyright © 2011 | Template design by QIENAZ | Powered by Syauqinaa Sabiilaa