Welcome to QIENAZONE. Thank you for visited my blogsite. Wish it will be useful for you guys. Leave a comment please ^^

Sabtu, 03 November 2012

Terapi Manipulasi Elbow Joint/Sendi Siku

,
a.         Pemeriksaan Fungsi Dasar Pada Elbow Joint     
Pada umumnya sebelum diadakan tes fungsi (pemeriksaan fungsi dasar), akan lebih baik apabila dilakukan tes orientasi gerak aktif yang berupa gerak fungsional dari sendi siku (misalnya : mengangkat, mendorong atau rnenekan suatu benda), Untuk mengetahui  : koordinasi, pola nyeri dan ROM aktif, dan tes orientasi tadi akan didapatkan interpretasi global tentang lokalisasi/letak nyeri atau letak struktur yang berkelainan (cidera).
Pemeriksaan fungsi dasar sendi siku (elbow joint) - pada prinsipnya meliputi 10 gerakan. Dari gerakan tadi dapat kesimpulan dari interpretasi sementara tentang kemungkinan struktur yang cidera/kelainan dalam kaitannya dengan gerakan fungsi serta sifat dari kelainan itu sendiri.
1.         Gerak flexi pasif.
Dalam gerak flexi pasif pemeriksa menekuk siku pasien dan flexor shoulder pasien. Sifat gerakan akhir (end feel) : sangat lunak karena gerakan ini dihambat oleh pertemuan antera kulit subcutan dan otot dari lengan bawah dan lengan atas.
Informasi yang didapat dari gerakan ini : Jarak gerak sendi, rasa nyeri dan sifat dari gerakan, stabilitas sendi, capsular pattern.
2.         Gerak ekstensi pasif.
Tehknik pelaksanaan adalah kebalikan dari gerak flexi siku. Posisi sendi siku dari pasien harus betul-betul relax. End Feel adalah keras karena gerakan ini diakhiri oleh pertemuan antara tulang dan tulang (olecranon dan fossa olecrani) Selain itu gerakan ini direm oleh ligamentum colateral bagian anterior, sehingga jarak gerak sendi yang normal seharusnya tidak lebih dari 180°. Namun jarak gerak sendi siku sering juga dijumpai adanya perbedaan antara siku kanan dan siku kiri.
Informasi dari tes ini adalah : adanya kemungkinan cidera dan struktur kapsul bagian anterior, ligamen collateral bagien anterior atau tendô m. biceps brachii dan m. brachialis, serta capsular patern.
3.         Gerakan pronasi pasif.
Pada gerakan pronasi maka tulang radius berputar terhadap tulang ulna. Pada gerak pronasi pasif jarak gerak sendi dapat mencapai 90 darajat. Dalam pelaksanaan tes ini maka yang terpenting pemeriksa memberikan memfixir tulang ulna sedangkan tangan yang lain menggunakan ibu Jari memegang bagian distal tulang radius. Kemudian tulang radius diputar kearah pronasi. Sifat gerakan akhir (end feel) dari gèrak pronasi adalah lebih keras bila dibanding dengan gerak flexi, tetapi lebih lunak bila dibanding dengan gerak ekstensi,  sehingga disebut capsulo ligamenter.
4.         Gerak supinasi pasif.
Teknik pelaksanaan seperti pada gerak  pronasi pasif, hanya arah gerakan yang terjadi berlawanan. Jarak gerak sendi pada gerakannya adalah 90°. End feel sedikit lebih keras daripada gerak pronasi namun tetap disebut capsulo ligamenter.
5.         Gerak flexi melawan tahanan.
Tehnik pelaksanaannya pada gerakan ini harus memperhatikan stibilitas sendi shoulder, sehingga gerakan yang terjadi bukan merupakan gerakan kompensasi dari sendi shoulder. Posisi pasien seperti pada gambar dan fisioterapis berikan tahanan static isometric pada gerak fleksi sendi siku. lnformasi yang didapat dari gerak ini adalah kekuatan otot flexor, terutama m.biceps brachii dan brachialis dan rasa nyeri pada otot-otot tadi, musculo tendinogen dan sebagainya.
6.         Gerak extensi melawan tahanan.
Gerakan ini berlawanan arahnya dengan gerak flexi, sehingga yang perlu di perhatikan pada grakan extensi melawan tahanan adalah pemberian tahanan dan faktor gaya dorong yang akan menentukan struktur sendi shoulder. Informasi yang didapat dari gerakan ini adalah seperti halnya pada gerak flexi melawan tahanan yaitu kekuatan otot  terutama otot triceps, rasa nyeri dan adanya kemungkinan kompresi/penekanan pada bursa subdeltoid.
7.         Gerak pronasi melawan tahanan.
Pada pelaksanaan tes gerak ini, maka pemeriksa memberikan yang kuat pada distaI tulang radius dengen, menggunakan kedua ibu jari tangan pemeriksa terutama permukaan thenor. Kemudian  pasien disuruh menggerakkan tulang radius kearah pronasi dan pemeriksa memberikan tahanan sehingga sedemikian rupa sehingga kontraksi yang teradi adalah kontraksi static isometric. Untuk menghindari gerakan kompensasi maka elbow pasien pada 90˚ flexi. Gerakan ini dilakukan oleh m. pronator teres.
8.         Gerak Supinasi melawan tahanan.
Pada prinsipnya tekhnik pelaksanaannya sama dengan gerak pronasi melawan tahanan, hanya arah gerakan yang dilakukan oleh pasien kearah supinasi dan tahanan yang diberikan oleh pemeriksa ke  arah pronasi. Gerakan ini dilakukan oleh m. biceps brachii dan m. supinator.
9.         Gerak fleksi melawan tahanan pada sendi pergelangan tangan
Otot penggerak fleksi sendi pergelangan tangan pada umunya bersifat multi axial sehingga ada beberapa group flexor, pergelangan tangan juga merupakan group flexor dari sendi siku.
Tes ini sering juga digunakan pada otot-otot fleksor carpiradialis dan ulnaris serta otot-otot flexor digitorum yang berorigo disekitart epicondylus medialis humeri atau sering dipakai untuk tes golfer elbow.
10.      Gerak ekstensi melawan tahanan padä sendi pergelangan tangan.
Tes dengan gerak ini, sering digunakan untuk tes group otot extensor sendi pergelangan tangan sekaligus juga ekstensor sendi siku yang berorigo pada epicondylus lateralis humeri (Tennis elbow). Otot—otot ini antara lain ; m. extensor carpi radialis longus dan brevis, m. digitorum communis dan ekstensor carpi ulnaris.

b.        Manipulasi Regio Siku
Regio siku dalam hal ini sendi siku dibentuk oleh tiga komponen sendi yaitu :Articulatio Humero Ulnaris, artikulatio humero radialis dan articulatio radio ulnaris proximal.
Pada prinsipnya pemberian manipulasi (traksi-translasi) Ialu mengikuti bentuk konkafitos konfeksitos (cekung — cembung) dari pada permukaan sendi.
1.       Articulatio Humero Ulnaris.
Apabila kita ingin mémberikan traksi sebagai pemeriksaan lingkup gerak sendi (joint play), maka pemberian traksi diberikan pada Maximally loose pached possition ( MLPP ) ± 70˚ flexi. Sedangkan arah traksi pada Humero ulnaris sesuai dengan bentuk permukaan sendi, adalah 45° dari otis tulañg ulnaris atau dengan kata lain untuk memperoleh arah traksi yang sejajar denan permukaan sedi maka arah traksi = derajad flexi – 45°.
Contoh Pada flexi siku 90° maka arah traksi = derajad flexi – 45° = 45°flexi.
Pada tujuan terapi, maka pemberian traksi dapat diberikan pada,maximally loose pached position, posisi fleksi, posisi ekstensi atau posisi keterbatisan gerak sendi siku.
   
-           Traksi pada maximalle loose pached position (MLPP)
Posisi seperti pada gambar,yang mana tangan fisioterapi berlawanan memegang ós humerus ke distal mungkin sambil meraba batas garis sendi, dengan ibu jari. Sedangkan tangan yang lain. menarik ke anterior membentuk garis sudut 45˚ dengan sumbu tulang.

 
  
-           Traksi pada keterbatasan gerak fleksi 70˚
Tehnik pelaksanaan seperti tersebut diatas.
Indikasi : keterbatasan sendi siku a specifiic.
 
  
-           Terapi Manipulasi traksi pada 60˚ fleksi humero ulnaris
Posisi pasien: tidur terlentang, lengan yang akan di traksi difiksasi dengan belt seperti gambar.
Fisioterapis: Tangan yang berlawanan memegang (memfixir) lengan bawah sedistal mungkin. Tangañ yang lain memberikan traksi ke arah seperti pada gambar.

          
  
-           Terapi Manipulasi traksi humero ulnaris  pada 120˚ fleksi
Teknik pelaksanaan seperti pada gambar.
Indikasi : keterbatasan sendi siku a spesifik.
untuk menambah fleksi articulation humero ulnaris.

 
  
-           Traksi Humero ulnaris pada 120˚ fleksi lengan bawah mid posisi.
Teknik pelaksanaan: pasien duduk disamping meja pengobatan.(seperti pada gambar)
Fisioterapis: Arah traksi dan fixasi lihat gambar.
Indikasi : penambahan flexi siku, keterbatasan sendi siku specifik.

 

-           Traksi Humero ulnaris pada posisi lengan mendekati normal ekstensi
Tehnik pelaksanaan: seperti jenis-jenis traksi humero ulnaris yang lain, arah traksi dan fiksasi seperti gambar. DaIam pemberian traksi ini lengan bawah dapat pada posisi supinasi maupun pronasi, tergantung tujuan yang hendak dicapai.

 

2.         Articulatio radiohumeri
-           Traksi Humero radialis pada posisi MLPP
Teknik pelaksanaan:
Posisi : tidur terlentang.
Fisioterapis: tangan yang sama memberikan fiksasi pada lengan atas sedistal mungkin sambil jari telunjuk meraba garis sendi (olecranon). Tangan fisioterapis yang lain memberikan traksi pada os radius dengan fiksasi seperti pada gambar dan arah traksi searah  sumbu tulang radius.

 

-           Traksi pada Humero radialis keterbatasan gerak fleksi 70˚.
Tehnik pelaksanaan dan posisi pasien seperti pada gambar.
Indikasi : Keterbatasan sendi siku aspecifik.

 

-           Translasi Articulatio Cubiti Antebracium medial
Tehnik pelaksanaan:
Posisi pasien : duduk
Fisioterapis: tangan yang berlawanan memegang (fixasi) pada lengan atas pasien sedistal mungkin. Tangan yang sama memegang lengan bawah pasien se proximal mungkin meraba garis sendi (pada olecranon). Kemudian memberikan ke gerak translasi ke medial seperti pada gambar. Tehnik ini dapat dilaksanakan pada posisi tangan pasien makin ke arah extensi atau pada keterbatassn akhir gerak extensi seperti pada gambar dibawah ini.
 Indikasi untuk menambah lingkup gerak sendi ke arah extensi pada keterbatasan gerak sendi siku aspesifik.

 



-           Translasi Articulatio Cubiti antebrachium lateral.
Tehnik pelaksanaan: posisi fisioterapi serta posisi pasien seperti pada gambar. sedangkan pemberian traksi ke arah lateral.
Gerakan translasi ini dapat dilaksankan pada lengan, makin gerak ke arah flexi atau keterbataan akhir gerak flexi seperti gambar di bawah ini.
Indikasi: untuk menambah lingkup gerak sendi arah flexi pada keterbatasan gerak sendi siku aspecifik.

3.         Articulatio Radio Ulnaris Proksimal
-           Translasi articulation humero radialis
Teknik pelaksanaan :
Posisi pasen duduk dengan tangan diatas bangku (seperti gambar) – Fisioterapis memberikan  translasi pada head of radio ke anterior. Arah translasi ke ventral pada gerakan ini berfungsi :
§  sebagai translasi pada gerak supinasi
§  translasi pada gerak flexi Humero Radialis.
Indikasi
§  Keterbatasan gerak süpinasi Radio — Ulnaris proximal.
§  Keterbatasan gerak flexi Humero — Radialis.
Catatan: os radius terhadap os ulna. — permukaan sendinya berbentük konvek (cembung).
Os radius terhadap Os humerus permukaan sendi berbentuk konkaf (cekung). “ingat hukum konvexitos dan koncafitos pada traksi translasi “.

-           Translasi articulutio Humero Radialis. articulctio radio ulnaris proximal : Radius ke posterior.
Tehnik pelaksanaan: Posisi pasien dengan tangan diatas meja (seperti gambar) Fisioterapis: Dengan menggunakan ibu jari memberikan translasi pada head of radio ke posterior. Arah translasi ke posterior pada gerakan ini berfungsi:
§  sebagai translasi pada gerak pronasi.
§  translasi pada gerak extensi Humero – Radialis.
Indikasi : Keterbataan gerak pronasi radius ulnaris proximal, Keterbatasan gerak extensi Humero radialis.

 

QIENAZONE Copyright © 2011 | Template design by QIENAZ | Powered by Syauqinaa Sabiilaa